CASA tetap menjadi kontributor utama DPK dengan porsi 83,8% dari total, atau tumbuh 9,1% YoY menjadi Rp999 triliun.

“Pertumbuhan CASA sejalan dengan peningkatan frekuensi transaksi BCA yang naik 78% dalam tiga tahun terakhir,” ungkap Hendra.

Likuiditas BCA tetap terjaga dengan baik, menandakan fundamental keuangan yang solid di tengah fluktuasi ekonomi global.

Kualitas Aset Semakin Membaik

Kualitas aset BCA juga terus membaik. Rasio Loan at Risk (LAR) turun menjadi 5,5% pada kuartal III 2025, dibanding 6,1% pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, rasio Non Performing Loan (NPL) berhasil ditekan di level 2,1%, menandakan manajemen risiko kredit yang sehat dan disiplin.

Dengan pencapaian tersebut, BCA diyakini mampu mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan melalui strategi pembiayaan yang hati-hati dan fokus pada sektor produktif.

Komitmen BCA untuk Ekonomi Nasional

Presiden Direktur Hendra Lembong menegaskan bahwa BCA akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui ekspansi kredit produktif, pengembangan layanan digital, serta pembinaan UMKM.

“Kami berkomitmen untuk menghadirkan layanan perbankan yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan guna memperkuat struktur ekonomi Indonesia,” tutupnya. (*/rnc)