Sebelumnya, Vian Ruma (30), aktivis penolak proyek geotermal di Pulau Flores, ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di sebuah pondok kebun di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Jumat (5/9). Di lokasi ditemukan sepeda motor, ponsel, serta bercak darah yang menimbulkan dugaan adanya tindak kekerasan.

Jenazah Vian dimakamkan di kampung halamannya, Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo, Sabtu (6/9/2025). Namun, keluarga menilai terdapat kejanggalan pada kasus ini, termasuk penggunaan tali sepatu di leher korban dan posisi kaki korban yang masih menyentuh lantai. Karena itu, keluarga mendesak kepolisian untuk melakukan penyelidikan mendalam.

Andreas menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa tragedi ini menjadi pelajaran penting agar pembangunan nasional selalu berjalan seiring penghormatan terhadap HAM dan perlindungan warga yang memperjuangkan masa depan lingkungan. (*/rnc)