Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar Rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS, melemah sebesar 64,5 poin atau 0,39% ke level Rp16.749 per USD pada Jumat (26/9/2025).
Bahkan, sejumlah analis memprediksi Rupiah bisa jatuh hingga Rp17.000 per dolar AS pada awal Oktober.
Merespons kondisi ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan komitmen BI menjaga stabilitas Rupiah.
“Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika melalui intervensi NDF,” ujar Perry.
Perry optimistis langkah BI dapat menjaga nilai tukar Rupiah agar kembali sesuai fundamental. Ia juga mengajak pelaku pasar untuk menjaga iklim keuangan yang kondusif demi stabilitas.
Sementara itu, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini signifikan. “Jika Rupiah menembus Rp16.800, sangat mungkin Oktober tembus Rp17.000 per USD,” jelasnya.
Menurut Ibrahim, pelemahan dipicu oleh faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyerang Rusia lewat pidatonya di PBB, termasuk ancaman sanksi energi. Situasi ini membuat Indeks Dolar (DXY) menguat ke 97,850, memberi tekanan pada Rupiah.
Dari sisi internal, penolakan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa terhadap wacana tax amnesty turut memicu sentimen negatif. “Padahal tax amnesty di era sebelumnya mendapat sambutan positif dari pasar,” ungkap Ibrahim.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik, pasar menilai tekanan terhadap Rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

