Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Ketidakadilan dalam distribusi sumber daya dan kesempatan dapat memicu ketidakpuasan dan konflik yang tidak harus terkait dengan agama. Penyebaran informasi yang cepat juga dan tidak akurat di media sosial jadi fakta memperkeruh suasana dan ciptakan permusuhan atar kelompok,” tutup Hilda.
Rado Tadjo Udju dalam kesempatan itu menambahkan faktor geografis dan suku bangsa juga turut serta memengaruhi persoalan pluralisme.
“Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi faktor terbentuknya keragaman suku bangsa, yang jika tidak dikelola dengan baik bisa timbulkan potensi konflik,” jelas Rado yang juga pelatih karate tingkat nasional ini.
Ian Haba Ora yang juga direktur Rumah Pintar AYHO menambahkan pemikiran yang subjektif dan negatif terhadap agama lain juga harus dianggap sebagai penyebab dari intoleransi beragama.
“Kurangnya sikap toleransi menyebabkan terjadinya peminggiran kelompok tertentu dan segregasi sosial berdasarkan etnis dan agama,” tutup Ian yang juga akademisi ini.
Kegiatan ini berlangsung secara tatacara protokoler MPR RI yang dimoderatori oleh Yoan Nenometa salah satu tokoh pemuda di Kota Kupang. Peserta yang hadir mencapai ratusan orang dari dari berbagai kelompok organisasi. (rnc)
