Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
TULISAN ini saya buat sebagai bentuk kepedulian sekaligus harapan. Saya menulis mewakili kelompok pengusaha yang tidak ingin hanya menunggu pasar terbentuk, melainkan ikut menciptakan pasar itu sendiri. Kita tidak bisa selamanya jadi penonton di rumah sendiri. Saatnya TTU bangkit!
Saya pribadi mendukung penuh langkah berani Bupati TTU yang mengalokasikan anggaran untuk pembangunan hotel yang representatif serta stadion permanen untuk road race. Langkah ini bukan sekadar proyek fisik, tapi investasi strategis yang akan menjadi penggerak banyak sektor.
Jujur, skala pembangunan seperti ini belum bisa dijangkau swasta lokal. Dan di sinilah negara harus hadir sebagai pionir. Negara harus menjadi motor penggerak awal investasi, dan ketika infrastruktur tersedia, kepercayaan pasar akan menyusul. Kita bicara tentang multiplier effect di banyak sektor:
- Kota Kefamenanu akan siap menjadi kota event di Pulau Timor.
- Pariwisata akan hidup, karena infrastruktur pendukung sudah tersedia.
- Petani lokal punya peluang lebih besar karena produk mereka akan terserap oleh event dan tamu dari luar.
- UMKM lokal akan kebanjiran pembeli, dan ekonomi rakyat akan bergerak dari bawah.
- Kita akan jadi satu-satunya kabupaten di Pulau Timor yang memiliki sirkuit road race permanen.
Bukan tidak mungkin, kita bisa jadi tuan rumah PON 2028, dan agenda balap motor regional Bali-Nusra bisa rutin digelar di TTU. Bahkan, dengan skenario realistis, hotel milik Pemda bisa balik modal dalam 5 tahun, sekaligus membuka lapangan kerja dan menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah.
Saya Pernah Dicemooh, tapi Saya Tidak Menyerah
Saya teringat kembali ke tahun 2008, saat pertama kali membangun Jabalmart Supermarket — konsep ritel modern pertama di TTU. Waktu itu? Saya dicemooh, ditertawakan, dan diremehkan. Katanya, “Siapa yang mau belanja model begitu di Kefamenanu?” Tapi saya tidak mundur.
Dan kini, Jabalmart tidak hanya bertahan, tapi tumbuh dan menjadi inspirasi banyak orang. Yang dulu mencemooh, kini ikut membuka usaha dengan model yang sama.
Inilah kuncinya:
- Pengusaha menciptakan pasar, bukan menunggu pasar siap dulu.
Kalau terus menunggu, kita akan ketinggalan kereta.
Dan inilah juga penyakit lama TTU — terlalu lama dipimpin oleh pemimpin yang penakut, takut ambil risiko, takut dikritik, takut berbeda. Akibatnya? Kita jalan di tempat. Potensi besar dibiarkan tidur.
Kompetisi Antar Daerah Sudah Dimulai — Jangan Sampai Kita Kalah Start!
Hari ini, tanpa kita sadari, kabupaten-kabupaten lain di NTT, terutama di Pulau Timor, sedang berlomba membenahi diri dan menarik investasi. Kota-kota tetangga sudah mempercantik wajahnya, menyiapkan event besar, dan membangun kepercayaan investor.
Kompetisi ini nyata, dan sudah dimulai. Kalau kita masih sibuk saling menjatuhkan, saling menghalangi ide-ide besar, dan ragu-ragu melangkah, maka kita akan tertinggal lebih jauh.
Sudah bukan zamannya kita diam dan pasrah. Sudah saatnya kita dukung pemimpin yang punya visi besar dan keberanian untuk mewujudkannya. Pemimpin yang berani berpikir “out of the box” dan menjawab tantangan masa depan dengan kerja nyata.
TTU Bisa Bangkit — Asal Kita Bergerak Bersama
Kebangkitan TTU tidak bisa hanya dibebankan kepada seorang bupati.
Ini tanggung jawab kolektif:
- Pemerintah yang berani dan punya visi
- Pengusaha yang tidak takut bergerak lebih dulu
- Masyarakat yang mau berubah dan percaya
- Lingkungan yang kondusif untuk investasi
Mari kita berhenti saling mencurigai, saling menjegal, dan mulai saling mendorong. Mari kita bangun TTU dengan semangat baru. Karena TTU bukan sekadar kabupaten kecil di perbatasan. TTU adalah rumah kita, dan rumah ini layak untuk jadi besar.
TTU Bisa! Saatnya Bangkit! (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan