Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Virus dengue sendiri memiliki empat serotipe, yakni DENV-1 hingga DENV-4, sehingga seseorang yang pernah terinfeksi satu serotipe masih berisiko tertular serotipe lainnya.
Gejala DBD umumnya muncul 4 hingga 7 hari setelah gigitan nyamuk yang membawa virus. Keluhan awal meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam kemerahan pada kulit. Pada beberapa kasus, muncul perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah.
Secara klinis, DBD terbagi dalam tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Fase demam berlangsung sekitar 1–3 hari dengan suhu tubuh tinggi dan keluhan umum. Fase kritis yang biasanya terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 menjadi tahap paling berbahaya karena dapat terjadi kebocoran plasma yang berisiko menyebabkan syok. Sementara itu, fase penyembuhan ditandai dengan kondisi pasien yang berangsur membaik dan keseimbangan cairan tubuh kembali normal.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), DBD masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius. Wilayah ini tergolong daerah endemis dengan peningkatan kasus yang kerap terjadi saat musim hujan maupun masa peralihan cuaca.
Dalam sosialisasi yang dilaksanakan para dosen Poltekkes Kupang di Dusun Neketuka, Desa Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, 25 Juli 2025 lalu, disebutkan pada awal tahun 2025, tercatat 616 kasus DBD di seluruh wilayah NTT, dengan dua kasus kematian yang terjadi di Kota Kupang.
Sebaran kasus hampir merata di berbagai kabupaten/kota, dengan jumlah tertinggi tercatat di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 149 kasus, disusul Kabupaten Ngada, Alor, dan Kota Kupang. Sementara itu, Kabupaten Ende, Rote Ndao, dan Malaka belum melaporkan kasus hingga pertengahan Februari 2025.
Meski secara umum jumlah kasus awal 2025 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sejumlah wilayah masih menunjukkan tingkat infeksi yang mengkhawatirkan. Anak-anak usia 1–15 tahun menjadi kelompok paling rentan, seperti yang tercatat di Kabupaten Sikka.
Faktor lingkungan, termasuk curah hujan yang tidak menentu akibat fenomena El Niño serta kebersihan lingkungan yang kurang terjaga, turut mendorong meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti.
Upaya pencegahan DBD paling efektif dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan memberantas sarang nyamuk melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air.
Selain itu, penggunaan kelambu, obat nyamuk, dan vaksin dengue seperti Dengvaxia (dengan indikasi tertentu) dapat menjadi langkah pencegahan tambahan. Masyarakat juga diimbau segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan apabila demam tidak kunjung turun setelah tiga hari, muncul tanda perdarahan, atau gejala syok seperti lemas, tidak mau makan dan minum, gelisah, hingga penurunan kesadaran.
Sosialisasi kepada masyarakat di Desa Baumata Timur disampaikan Apt. Edtyva Monicha, M. Farm dan beberapa dosen lainnya dari Prodi Farmasi Poltekkes Kupang. (*/rnc)
