Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), DBD masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius. Wilayah ini tergolong daerah endemis dengan peningkatan kasus yang kerap terjadi saat musim hujan maupun masa peralihan cuaca.
Dalam sosialisasi yang dilaksanakan para dosen Poltekkes Kupang di Dusun Neketuka, Desa Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, 25 Juli 2025 lalu, disebutkan pada awal tahun 2025, tercatat 616 kasus DBD di seluruh wilayah NTT, dengan dua kasus kematian yang terjadi di Kota Kupang.
Sebaran kasus hampir merata di berbagai kabupaten/kota, dengan jumlah tertinggi tercatat di Kabupaten Sabu Raijua sebanyak 149 kasus, disusul Kabupaten Ngada, Alor, dan Kota Kupang. Sementara itu, Kabupaten Ende, Rote Ndao, dan Malaka belum melaporkan kasus hingga pertengahan Februari 2025.
Meski secara umum jumlah kasus awal 2025 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sejumlah wilayah masih menunjukkan tingkat infeksi yang mengkhawatirkan. Anak-anak usia 1–15 tahun menjadi kelompok paling rentan, seperti yang tercatat di Kabupaten Sikka.
Faktor lingkungan, termasuk curah hujan yang tidak menentu akibat fenomena El Niño serta kebersihan lingkungan yang kurang terjaga, turut mendorong meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti.
