“Semua SKO punya manajemen khusus yang namanya promosi dan degradasi. Khusus degradasi, itu bukan baru sekarang. Setiap tahun ada peserta didik didegradasi dengan beragam alasan,” sebutnya.

Menurut Hironimus, ada empat pelajar atlet yang didegradasi bersama Fernando Ola. Fernando dari cabor Taekwondo, sedangkan yang lain dari cabor kriket, sepak bola, pencak silat dan wushu. Fernando dan satu atlet pelajar cabor kriket didegradasi karena alasan perkembangan latihan. Sementara Dua atlet pelajar dari cabor sepak bola dan pencak silat didegradasi karena alasan kesehatan. Sedangkan atlet pelajar cabor wushu didegradasi karena alasan perkembangan akademik.

“Data di rapor olahraga yang kemudian diinput di rapor pintar, mulai dari tes awal, tes triwulan dan tes lanjutan, perkembangannya (Fernando, red) tidak naik. Dilihat dari rekam jejak prestasi, dia juga tidak memberikan prestasi,” terang Hironimus.

Menurut Hironimus, degradasi di SKO bukan berarti men-drop out-kan siswa. Sebab SKO tetap memfasilitasi kepindahan peserta didik ke sekolah reguler.

“Untuk lima anak yang didegradasi, kami sudah sampaikan ke orangtua dan pihak terkait lainnya. Kami juga sudah membuat laporan ke dinas pendidikan dengan melampirkan bukti-bukti,” jelasnya.