Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kefamenanu, RakyatNTT.ID – Setelah lebih dari tiga dekade terbengkalai, Kebun Loli milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Desa Loli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kini bangkit dengan wajah baru: pusat agroekowisata dan pelatihan terpadu bagi para pendeta.
Lahan seluas 12 hektare tersebut menjadi salah satu proyek unggulan dalam program revitalisasi aset gereja yang tengah digalakkan oleh Majelis Sinode GMIT.
“Dulu ini lahan praktik orientasi pedesaan bagi calon pendeta. Sekarang, disiapkan menjadi pusat pertanian terpadu dan pelatihan,” ujar Pdt. Yunus Kaitulang, M.Th, Ketua Badan Pemberdayaan Aset dan Pengembangan Ekonomi (BPAPE) GMIT saat ditemui di lokasi, Minggu (20/7/2025).
Dari Lahan Tidur ke Lahan Produktif
Lahan seluas 113.600 meter persegi ini tidak aktif sejak 1992, dan kini mulai digarap dengan pendekatan agroekowisata: mulai dari budidaya stroberi, cabai, pepaya California, hingga kolam ikan yang sedang dibangun. Semua sektor ini mendukung tujuan ganda — ekonomi dan pendidikan gereja.
“Ini bagian dari implementasi HKUP GMIT yang menekankan revitalisasi aset dan pemberdayaan ekonomi jemaat,” terang Pdt. Yunus.
Program ini juga selaras dengan amanat Persidangan Sinode Paulus ke-34 dan rekomendasi Majelis Sinode Harian, sebagai langkah konkret agar aset gereja tidak sekadar menjadi beban, tapi jadi berkat nyata bagi jemaat.
Pelatihan Nyata untuk Pelayanan Nyata
Kebun Loli juga dirancang menjadi pusat pelatihan pendeta dan calon pendeta. Tujuannya, memperluas kapasitas para pelayan gereja agar tidak hanya terfokus pada mimbar, tapi mampu menjawab kebutuhan sosial dan ekonomi jemaat.
“Kami ingin gereja hadir menjawab kebutuhan riil di lapangan. Pelayanan tidak hanya khotbah, tapi juga pemberdayaan,” jelasnya.
Fasilitas pelatihan ini akan jadi ruang belajar bersama lintas klasis dan sinode, memperkuat jaringan antar pelayan Tuhan dalam membangun ekosistem gereja yang mandiri dan produktif.
Ajak Jemaat Bangun Masa Depan GMIT
Pdt. Yunus menegaskan pentingnya dukungan semua pihak, terutama jemaat dan struktur GMIT, agar inisiatif ini tidak hanya berhasil di atas kertas.
“Mari kita bangun komitmen bersama untuk GMIT, untuk NTT, dan demi Indonesia emas. Kebun Loli bukan sekadar kebun—ini adalah simbol kebangkitan dan tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan