Apa yang dilakukan di AS dan Australia, dalam konteks tertentu, baik adanya; demikianpun berbagai usulan di atas untuk diterapkan di Indonesia dalam rangka memerangi “brain rot“ itu. Walaupun demikian, melarang penggunaan HP, menurut saya, kurang menarik karena bagaimanapun media sosial, yang diakses melalui HP, misalnya, juga mempunyai banyak sisi positif.

Jika digunakan secara benar, sisi positif itu, tentu, dapat membantu setiap murid belajar secara total, all out, dan, karena itu, berpeluang menjadi sangat sukses di sekolah dan beyond. Persoalannya adalah bagaimana cara mendorong para murid menggunakan media sosial itu secara benar dalam proses belajarnya yang total, all out, itu, dalam perjalanannya menuju puncak keberhasilannya.

Ada banyak cara. Tentu. Namun pada kesempatan ini saya mengusulkan tiga cara. Pertama, biarkan setiap murid bermimpi atau berimajinasi tentang masa depan yang diidamkannya sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhan belajar atau BMKB-nya (Bdk. Tans Feliks, Membuat SMA Unggul Garuda Unggul. Rakyatntt.id. 26 Juli, 2025).

Iklan

Kedua, orang tua, guru dan/atau pengampu para murid perlu menyakinkan anak-anak bahwa jika mereka rajin, all out, total, kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif dalam belajar, punya disiplin yang tinggi, bertekad kuat untuk maju, pantang menyerah, dan punya rasa percaya diri yang tinggi dalam hidupnya, mereka pasti sukses. Ini, dalam dunia pendidikan, disebut autosugesti (baca, misalnya, Bernie Neville, 1989, Educating Psyche).