Namun, Djami juga mengonfirmasi adanya indikasi sampel makanan tidak layak konsumsi dari hari sebelumnya, termasuk daging merah yang belum matang sempurna serta sayur dengan aroma basi. “Saya tanya kenapa mereka tetap makan, jawabnya karena lapar,” tuturnya.

Sebagai bentuk tanggap darurat, program MBG dihentikan sementara untuk hari itu dan siswa dipulangkan lebih awal.

Evaluasi MBG NTT pun diserukan oleh dinas, mengingat satu dapur saat ini melayani hingga 3.500 siswa. “Ini harus ditinjau ulang. Beban dapur jangan berlebihan,” pungkas Djami. (*/rnc)