Paulus tidak menyangkal adanya perbedaan, tetapi ia menolak dengan keras sektarianisme. Ketika ada yang berkata “Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos,” Paulus menegur: “Adakah Kristus terbagi-bagi?” (1 Korintus 1:13).

Di hadapan pernyataan yang menganggap Protestan sebagai musuh yang harus diberantas, kita diingatkan kembali pada pesan Paulus bahwa gereja adalah satu tubuh. Perbedaan denominasi adalah konsekuensi sejarah, tetapi menyebut saudara seiman sebagai “serigala berbulu domba” atau bahkan “anti-Kristus” adalah tindakan yang mencederai tubuh Kristus itu sendiri.

Yesus dalam Yohanes 17:21 berdoa, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Doa ini adalah dasar ekumenisme. Kristus tidak memohon agar gereja menjadi seragam, tetapi agar gereja tetap bersatu dalam kasih, meski ada perbedaan tradisi.

Iklan

2. Protestanisme dalam Sejarah: Bukan Anti-Kristus, Melainkan Reformator Gereja

Sejarah Reformasi Protestan tidak lahir dari kebencian terhadap gereja Katolik, melainkan sebagai upaya profetis untuk memurnikan gereja dari penyimpangan. Martin Luther pada tahun 1517 memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg bukan untuk memecah belah gereja, tetapi untuk mengingatkan gereja akan kembali pada Injil yang murni: “Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia.”