Pendahuluan: Luka yang Dibuka Kembali

Perpecahan adalah bagian dari sejarah gereja. Namun, ketika perpecahan itu sengaja disiram dengan bensin stigma, luka sejarah justru semakin terbuka. Baru-baru ini, pernyataan kontroversial seorang pemuka agama Katolik, Romo Patris Allegro, kembali memantik bara di tengah tubuh Kristus. Beliau menyebut bahwa:

  • Protestan lebih berbahaya dari Islam,
  • Protestan adalah serigala berbulu domba,
  • Protestan itu anti-Kristus,
  • Protestan adalah sistem yang harus diberantas,
  • Dan menyatakan bahwa Kristen adalah ateis berbungkus Alkitab.

Sebagai teolog Kristen, saya merasa perlu memberi tanggapan secara akademis dan teologis atas pernyataan ini. Tanggapan ini bukan ditujukan untuk memperpanjang konflik denominasi, melainkan sebagai panggilan moral dan spiritual agar gereja kembali kepada pangkuan kasih Kristus yang mempersatukan, bukan memecah.

1. Tubuh Kristus: Satu dan Tak Terbagi

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 1:10-13 dengan jelas menegur perpecahan yang terjadi di antara jemaat:
“Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seiya sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.” (1 Korintus 1:10)

Iklan