Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Secara sepintas, pesan video Wali Kota itu baik. Sangat baik, bahkan. Walaupun demikian, jika dikritisi secara lebih mendalam, dengan mengatakan itu Wali Kota, menurut saya, terjebak rutinitas sebagai Orang Nomor I Kota Kupang. Sebab yang disampaikannya, kurang lebih, sama dengan yang disampaikan oleh para pejabat sebelumnya, yaitu mengimbau “seluruh masyarakat Kota Kupang” untuk menjaga kebersihan kota. Ketika imbauan itu sudah dilaksanakan, seperti Wali Kota sekarang, pejabat sebelumnya juga menyampaikan terima kasih dan pujian, kurang lebih, dengan nada yang sama.
Dalam pujian itu, peran sosial warga disanjung, sedangkan peran sang wali kota sendiri diperkecil. Seperti pejabat sebelumnya, keberhasilan program juga ditonjolkan dengan menyebut bukti seperti foto lingkungan yang berubah: dari kotor menjadi bersih. Selain itu, Wali Kota juga menyampaikan perlunya kolaborasi dan kebersamaan untuk “mewujudkan Kupang yang bersih.” Kurang lebih seperti yang juga disampaikan oleh para pejabat sebelumnya. Dengan demikian, semua itu, tampaknya, mengalir secara tetap dalam sebuah rutinitas yang tidak lagi asing bagi warga kota.
Namun, hasilnya, kita tahu bersama, Kota Kupang memang sedikit lebih bersih daripada sebelumnya, tetapi belum sepenuhnya bebas dari sampah. Pada tanggal 27 Mei, 2025, beberapa hari setelah video Wali Kota itu viral, saya dan seorang teman dengan sengaja menelusuri Jalur 40 dari Lasiana hingga Bolok pergi-pulang. Sebagai informasi, itu, antara lain, jalur yang selama ini penuh dengan sampah yang berserakkan.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan