Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PADA tanggal 11 Februari, 2025, Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, NTT, secara resmi diberi predikat “Akreditas Unggul” oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Indonesia. Sebuah predikat yang patut disyukuri karena dengan itu Undana secara resmi ditahbiskan menjadi sebuah PT yang pamornya – keindahan, kemuliaan, dan wibawanya – sama dengan PT besar lainnya di negeri ini.

Predikat, yang berlaku hingga 11/02/2030, itu, diperoleh setelah sebelumnya, di akhir tahun 2024, tepatnya pada tanggal 15-17 November, lima akademisi terkemuka Indonesia mengunjungi Undana. Mereka asesor dari BAN-PT: Prof. Titin Siswantining (UI), Prof. Muhammad Rohmadi (Universitas Negeri Sebelas Maret), Prof. Mulyono Baskoro (IPB), Prof. Andi Sularso (Universitas Jember), dan Dr. Subagyo (UGM). Tugasnya mereakreditasi Undana. Disebut reakreditasi karena pada saat itu predikat akreditasi Undana, “Baik Sekali,” masih berlaku hingga tahun 2028.
Nilai akreditas itu, saya kira, bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Tiba-tiba. Tak disangka-sangka. Mengejutkan. Tidak. Sama sekali tidak. Dia buah sebuah proses panjang yang bermula, bahkan, sejak Undana lahir tahun 1962. Puncaknya dalam beberapa tahun terakhir ini ketika banyak program studi (Prodi) di Undana terakreditasi unggul, secara nasional dan global. Juga ketika guru besar aktifnya semakin banyak yang, saat ini, berjumlah 45 orang dan ada, di antaranya, yang masuk dalam jajaran 2% ilmuwan top dunia; juga ketika ratusan pengajarnya bergelar doktor dan magister, tamatan PT top, dalam dan luar negeri; juga ketika sarana dan prasarana belajar dan pembelajarannya relatif lengkap, termasuk ketersediaan WiFi 1 kali 24 jam, 7 hari seminggu, dan listrik yang hampir tak pernah lagi padam; juga ketika tenaga kependidikannya relatif mumpuni; dan, juga, ketika berbagai kerja sama strategis dengan berbagai lembaga lokal, nasional, dan internasional dibangun secara konsisten.
Semua itu ikut berkontribusi sedemikian rupa dalam proses menghasilkan predikat akreditasi unggul itu. Jadi, predikat itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Bukan!
Selain itu, ada kontribusi alumni Undana yang, secara umum, membanggakan. Mereka yang (telah) mengabdi pada berbagai bidang kehidupan itu ikut serta membangun Indonesia secara umum, NTT secara khusus: ada guru; ada ilmuwan; ada kepala desa, ada camat, ada bupati, bahkan, ada gubernur; ada wakil rakyat; ada wartawan; ada petani; ada pengusaha; ada pengacara; dan, ada berbagai profesi lainnya.
Mahasiswa Undana pun tak kalah cemerlangnya. Laman Undana bercerita banyak tentang mereka. Ada duta bahasa, juara lomba karya tulis ilmiah, juara lomba “micro-teaching”, juara desain media pembelajaran, pemenang lomba mahasiswa berprestasi, peserta program mobilitas mahasiswa luar negeri, dan juara beberapa even nasional dan internasional.
Dengan demikian, Undana, sejatinya, layak mendapat predikat itu. Walaupun demikian, tentu, harus diakui bahwa Undana, dengan predikat itu, bukanlah sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sempurna. Dia bukan UI. Apalagi Universitas Harvard atau Cambridge. Bukan. Selalu punya kekurangan dalam dirinya, misalnya, dalam diri dosen yang “amat sangat susah” ditemui; pesan WA yang tidak pernah dibalas; yang begitu susah ditemui padahal tinggalnya bukan di planet lain, tetapi masih di sekitar kampus Undana. Di Kupang. Itu, antara lain, yang membuat mahasiswanya, akhirnya, dropped-out atau “pushed out” dan frustasi. Kecewa berat. Hasil belajarnyapun kurang maksimal sehingga sulit dapat kerja setelah tamat, apalagi untuk menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Kekurangan tersebut, tentu, kita harapkan, tidak menjadi nila setitik perusak susu sebelanga. Supaya harapan itu tercapai, kekurangan itu, bagaimanapun caranya, harus segera diatasi supaya susu sebelanga yang bernama Undana itu tetap terjaga kemaslahatannya untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat banyak, para pemangku kepentingannya.
Itu penting karena ketika itu bisa dilakukan, Undana tidak hanya akan semakin percaya diri berkat predikat itu, tetapi juga lebih mampu menatap masa depannya dengan keyakinan penuh bahwa Undana sekali unggul tetap unggul untuk dirinya sendiri dan untuk NTT, tempat dia lahir dan dibesarkan, secara khusus, Indonesia/dunia secara umum. Sekarang dan nanti.
Harapan itu penting. Sebab syukur Undana sudah unggul, terlepas dari berbagai kekurangan, yang saya sebut di atas, yang harus segera diatasi. Namun NTT belum unggul. Minimal, secara umum. Secara proporsional. Belum. Untuk masalah kemiskinan, misalnya, pada September 2024, ada 1,11 juta orang miskin di NTT. Itu sama dengan 19,02% penduduknya.
Secara nasional, ada 8,57% yang miskin. Itu setara dengan 24,06 juta jiwa, menurut data BPS. Itu hampir empat kali jumlah penduduk NTT. Soal tengkes/stunting, salah satu potret kemiskinan, setali tiga uang: secara nasional prevalensi stunting 19,08%. Namun di NTT, Sulawesi Barat, dan Papua Tengah proporsinya di atas 30%. Tinggi sekali. Selain soal kemiskinan dan stunting, pengangguran terbuka juga jadi soal di NTT, walaupun secara proporsional relatif kecil, yaitu 3,02% pada November, 2024, bila dibandingkan dengan tingkat pengangguran Indonesia pada Februari 2025, yaitu 4,76% atau 7,28 juta orang!
Secara nasional, kita berharap Presiden Prabowo dan jajarannya bekerja ekstrakeras dan sukses untuk mengatasi berbagai persoalan itu. Di NTT, pada pundak Pemda – provinsi, kota, dan kabupaten – kita letakkan harapan yang satu dan sama itu. Semoga mereka berhasil mengatasi masalah kemiskinan, stunting, pengangguran dan masalah lainnya seperti tenaga kerja (ilegal) atau pekerja migran asal NTT yang gagal di luar negeri sehingga banyak yang pulang tanpa nyawa: tahun 2024, 125 orang; tahun ini, 49 orang (Januari-April).
Saya yakin Pemda bisa. Gubernur NTT, misalnya, telah memulai mengatasi persoalan tersebut dengan program unggulannya seperti penguatan posyandu dan kader kesehatan, gerakan beli produk NTT, satu desa satu produk unggulan, pengembangan pendidikan tinggi melalui pendampingan murid, peningkatan PAD dan penguatan tata kelola pemerintahan. Dengan itu, saya yakin, visi NTT “maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan” bisa segera terwujud.
Dalam proses mewujudnyatakan visi itu, Undana, saya yakin, bisa turun gunung. Dengan tagline “Undana berdampak” (akronim dari Berdaya juang, berakhlak Mulia, membangun Prestasi, Awareness, dan Kemandirian), yang sering didengungkan oleh Prof. Maks U. E. Sanam, Rektor Undana, dan dengan SDM yang relatif kompeten seperti yang saya sebut di atas, unggulnya Undana akan berdampak pada tercapainya visi NTT tersebut. Kalau tidak turun gunung, predikat unggul Undana itu, tentu, tidak akan pernah berdampak. Jika tidak berdampak, lalu untuk apa predikat unggul itu?
Ini, saya kira, tantangan kepemimpinan Undana, sekarang dan ke depan: Undana yang unggul harus juga ikut serta secara aktif membuat NTT unggul, yaitu NTT tanpa stunting, tanpa kemiskinan, tanpa pengangguran, tanpa TKI yang gagal, dan tanpa masalah lain, apapun itu. Kalaupun ada, jangan sampai jumlahnya selalu tinggi. Apalagi selalu yang tertinggi dalam hal yang negatif itu. Janganlah! Jangan! Kita semua, tentu, sepakat soal ini. Apalagi Rektor Undana yang sudah membuat Undana unggul. Apalagi Pak Gubernur. Juga semua bupati. Juga wali kota. Juga semua pemimpin di NTT ini. (*)
*Guru Besar FKIP/Program Pascasarjana, Undana, Kupang




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan