oleh: Robert Kadang

Sundun rongko’ta massolanasang, belanna ma’dinki nabungkaran lalan Puang Matua sipulung lante kombonganna Puang Matua, Gereja Toraja Jemaat Kupang. Tarannuan kumua Ia mo Puang latontong ussaladanki massolanasang sia tontong umpassakkeki lan mintu a’gan katuanta sia lanlu tananan dapo’ta pantan – pantan ki’ simisata massolanasang, amin.

Seharian berada di pelataran Gereja Toraja Jemaat Kupang, serasa di kampung halaman, Toraja maelo’. Nuansa, cita rasa, hingga pesonanya, membawa angan sesaat seperti di kampung sendiri. Terdengar gora-gora to minaa. Bate yang menjulang ke angkasa. Deretan lantang yang ditempati kelompok-kelompok arisan. Warna-warni busana Toraja, minus beta. Pasalnya, lagi menjalankan profesi sebagai jurnalis. Lalu di akhir, ada menu pa’piong duku bai plus duku tedong, yang disaji dalam balutan makan bersama. Mammi’ tongan, membuat kami lahap menikmatinya.

Prosesi ritus pentahbisan Gereja Toraja Jemaat Kupang, bak mendapat restu Sang Pencipta. Semilir angin yang sejuk, pun di bawah siraman matahari yang enggan keluar dari tempat peraduannya, seakan mengerti, ada sekelompok diaspora Toraja Kupang sedang menggelar ritus keagamaan. Klik.., benar-benar serasa di kampung sendiri, di Toraja.

Lalu.., ada cerita menarik di balik kehadiran Gereja Toraja, di Kota Kupang. Cerita itu terungkap, ketika sertifikat tanah diserahkan dr. Intin Talantan dan dr. Erma Rantela’bi, kepada Ketua Majelis Gereja Toraja Jemaat Kupang, Pdt. Jonathan, M.Th. Berikut penuturan Intin Talantan yang dirangkum RakyatNTT.com :

“Apa yang kita rencanakan, apa yang telah kita buat bersama pada hari ini, Tuhan mengizinkan kita berkumpul di tempat ini, tidak lain untuk mensyukuri akan berdirinya gedung Gereja Toraja. Di mana, pada hari ini adalah acara pembukaan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada semua yang hadir di sini, kami sedikit mengungkapkan isi hati kami berdua. Dari hati yang paling dalam, kami tidak pernah menyangka bisa buat ini.

Apa yang sudah berjalan, semua tidak lepas dari ide dari bapak Naya dan bapak Brity, kami mengikut saja semangati ide-ide mereka, karena kami setiap hari sibuk. Tapi puji Tuhan, kami diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memberikan persembahan dari apa yang Tuhan juga sudah berikan kepada kami. Begitu banyak yang Tuhan sudah berikan kepada kami. Dari latar belakang keluarga kami berdua, ada kemiripan.

Begitu panjang penantian kami untuk mendapatkan keturunan, dimana saya menantikan Naya sembilan tahun. Sementara bapak Brity dan mama Brity delapan tahun. Dan ketika kami mendapatkan keturunan, kami betul-betul takjub dan merasa luar biasa, bahwa Tuhan begitu baik dalam kehidupan kami, sehingga kami merasa ada hal yang menjadi kerinduan apa yang Tuhan sudah berikan kepada kami, alangkah baiknya kalau kita berikan sebagai persembahan. Dan itu mungkin bisa menjadi berkat buat kami dan buat banyak orang. Tuhan menggerakkan hati bapak Naya dan bapak Brity, dan mereka meyakinkan kami berdua bahwa semua Tuhan yang bekerja. Jikalau Tuhan yang bekerja, semuanya akan mendatangkan kebaikan. Kami bukan siapa-siapa, hanya Tuhan yang dipermuliakan.”

Bak gayung bersambut, Pdt. Jonathan mengatakan, apa yang dilakukan keluarga Feri Silaban dan Tiku Rerungan, merupakan persembahan yang terbaik untuk Tuhan.

“Hari ini kita sudah saksikan kedua keluarga Toraja mempersembahkan yang terbaik dan yang terindah untuk Tuhan. Sebagai anggota jemaat Kupang, mari kita terus bahu membahu, bekerja sama dan sama-sama bekerja terus, menatap dan membangun jemaat gerbang ini, agar terus memancarkan terang kasih Yesus. Tuhan memberkati kita semua, haleluya. Selain itu ada hamba-Nya, bapak Nimrot Saluk dalam memberikan perhatian dan dukungan. Begitupula kepada keluarga bapak Dominggus Sarambu yang telah berkenan rumah tinggal mereka dipakai beribadah sambil mempersiapkan tempat ini. Terima kasih pula kepada panitia pembangunan bersama anggota jemaat yang telah berupaya bahu membahu membangun rumah Tuhan ini. Dan segenap warga Kerukunan Keluarga Toraja yang senantiasa memberi perhatian dan terlibat dalam kebersamaan di tempat ini. Kiranya segenap warga KKT di Kupang ini, Kota Kasih senantiasa memancarkan terang Kristus dan menjadi pembawa damai serta sukacita. Begitu pula kebersamaan, partisipasi dan dukungan tetangga-tetangga dari warga sekitar. Tuhan memberkati kita semua, amin,” papar Pdt. Jonathan. (*)