“Ini bukan kejadian baru. Kekerasan seperti ini sudah terjadi sebelum 7 Oktober 2023,” jelas sang pastor. Ia menegaskan bahwa umat Kristen di desa tersebut tidak akan meninggalkan tanah kelahiran mereka meski terus diintimidasi.

Dalam pernyataannya, IDF mengklaim mereka membalas tembakan dari dalam desa, namun bukti video memperlihatkan warga sipil Palestina yang tidak bersenjata menjadi sasaran tembakan.

Kelompok hak asasi Yesh Din menuduh tentara Israel membiarkan pemukim bertindak semena-mena dan menyebutnya sebagai bentuk “pembersihan etnis”. Beberapa pemukim telah ditangkap, namun kekhawatiran tetap tinggi karena impunitas dan dukungan politik dari tokoh-tokoh pro-pendudukan seperti Itamar Ben-Gvir.

Sementara itu, kepala kepolisian Tepi Barat saat ini tengah diselidiki karena dinilai membiarkan kekerasan ini terjadi demi menyenangkan pejabat radikal. (*/rnc)