Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Padahal, menurut (NCTM), pemecahan masalah adalah jantung dari pembelajaran matematika. Tanpa itu, matematika akan terasa hampa: hanya hafalan rumus tanpa makna.
Strategi REACT: Dari Hafalan ke Pemahaman
Saya melakukan penelitian kuasi-eksperimental terhadap 105 mahasiswa PGSD Universitas Citra Bangsa Kupang. Separuh dari mereka mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional. Separuh lainnya menggunakan pendekatan REACT: Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring.
- Relating: mahasiswa diajak mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
- Experiencing: mereka mengalami sendiri proses pembelajaran melalui eksplorasi
- Applying: mereka menerapkan konsep dalam soal-soal kontekstual
- Cooperating: mereka belajar bekerja sama dalam menyelesaikan masalah
- Transferring: mereka menggunakan pengetahuan yang diperoleh dalam situasi baru
Hasilnya sangat signifikan. Berdasarkan uji statistik (independent sample t-test), nilai signifikansi sebesar 0,015 < 0,05, yang menunjukkan bahwa strategi REACT berpengaruh secara positif dan nyata terhadap kemampuan pemecahan masalah mahasiswa.
Lebih dari sekadar angka, saya melihat sendiri bagaimana atmosfer kelas berubah. Mahasiswa yang biasanya pasif mulai aktif berdiskusi. Mereka tidak lagi takut salah, tapi justru bersemangat mencari solusi. Ruang kelas bukan lagi tempat menghafal rumus, melainkan ruang eksplorasi dan pemaknaan.
Mengapa Strategi Ini Bekerja?
Strategi REACT efektif karena menyentuh dua aspek penting dalam pembelajaran: emosi dan makna. Ketika mahasiswa bisa mengaitkan materi dengan kehidupannya (misalnya menghitung luas dinding rumah atau membagi roti untuk keluarga), maka matematika tidak lagi abstrak. Ketika mereka bekerja sama menyelesaikan soal, diskusi menjadi alat belajar, bukan alat kompetisi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan