Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ini sejalan dengan riset-riset terdahulu. Marlisa dan Widjajanti (2015) menemukan bahwa strategi REACT meningkatkan apresiasi siswa terhadap matematika. Hasanah dkk. (2019) juga membuktikan bahwa pendekatan ini memengaruhi kemampuan komunikasi dan pemahaman matematis.
Dengan kata lain, REACT bukan metode baru yang “asal beda”, tapi pendekatan yang didesain dengan cermat berdasarkan prinsip pedagogi yang terbukti.
Saatnya Kita Bergerak
Pertanyaannya: mengapa pendekatan seperti ini belum digunakan secara luas di kampus-kampus pendidikan guru?
Masalahnya seringkali bukan pada kemauan dosen, tapi pada sistem pembelajaran yang terlalu terfokus pada silabus dan target penyelesaian materi. Akibatnya, yang diajarkan adalah isi, bukan cara berpikir.
Untuk itu, saya ingin mengajak para dosen pendidikan guru—khususnya di NTT—untuk mulai mempertimbangkan strategi pembelajaran yang menekankan pada konstruksi pengetahuan dan pemecahan masalah. Karena sejatinya, tugas kita bukan hanya meluluskan mahasiswa, tetapi membentuk guru masa depan.
Selain itu, institusi perguruan tinggi juga perlu memberi ruang inovasi lebih luas bagi dosen. Bentuknya bisa berupa pelatihan strategi pembelajaran, forum diskusi dosen lintas mata kuliah, hingga kebijakan yang mendukung riset-riset kelas kecil yang aplikatif.
Tidak Butuh Biaya Besar, Hanya Kemauan Besar
Satu hal yang perlu digarisbawahi: strategi REACT tidak memerlukan teknologi canggih atau anggaran mahal. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk merancang pembelajaran yang kontekstual dan dialogis. Buku catatan, papan tulis, dan soal yang relevan sudah cukup.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan