Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sementara itu, di SD GMIT Oepura, guru-guru mulai terbiasa menggunakan aplikasi seperti Google Form dan WhatsApp untuk kegiatan pembelajaran. Namun, sebagian besar belum memahami cara menggunakan Rapor Pendidikan sebagai alat analisis mutu dan perencanaan berbasis data.
Seorang guru menyatakan, “Kami sudah coba isi rapor pendidikan, tapi bingung bagaimana membacanya, apalagi menjadikannya dasar menyusun program.” Ini menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi belum selalu diikuti dengan pemahaman dan pendampingan yang memadai.
SDM: Antara Beban dan Harapan
Digitalisasi MBS menuntut perubahan paradigma kepemimpinan dan pembelajaran. Kepala sekolah dan guru kini dituntut menjadi pemimpin digital dan pengguna aktif data.
Namun, survei internal Kemendikbudristek (2023) menunjukkan bahwa hanya 58% kepala sekolah merasa mampu mengelola platform digital secara mandiri, dan pelatihan TIK di banyak daerah, termasuk Kupang, masih bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan.
“Kadang pelatihan hanya satu hari. Setelah itu, kami bingung kalau ada kendala. Tidak ada yang bisa ditanya,” ujar seorang kepala sekolah di Kota Kupang.
MBS Digital: Antara Potensi dan Ketimpangan
Platform seperti ARKAS dan Rapor Pendidikan membawa potensi efisiensi dan transparansi yang luar biasa. Namun jika tidak didukung oleh kesiapan infrastruktur dan kapasitas SDM, digitalisasi ini justru berisiko menciptakan ketimpangan baru.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan