Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ende, RNC – Sebanyak 424 kepala sekolah dari jenjang TK/PAUD, SD, SMP se-Kabupaten Ende mengikuti kegiatan “Beyond The School Leader” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende bekerja sama dengan Google for Education, Selasa (3/6/2025) di Graha Ristela Hotel, Ende.
Wakil Bupati Ende, Dominikus Minggu Mere dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan abad ke-21 menuntut kepala sekolah memiliki kemampuan berpikir strategis dan responsif terhadap dinamika perubahan. Juga menguasai kompetensi digital guna mendorong inovasi pembelajaran.
“Kepala sekolah saat ini tidak lagi cukup hanya sebagai administrator. Mereka harus menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu membawa komunitas sekolah menuju transformasi yang bermakna,” ungkapnya.
Program Beyond The School Leader yang digagas oleh Google for Education ini, menurutnya, merupakan langkah konkret dalam menjawab tantangan kepemimpinan di era digital.
Program ini dirancang untuk mendukung kepala sekolah membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, terkoneksi dan adaptif melalui pemanfaatan teknologi secara bijak dan kontekstual.
Wakil Bupati juga mengajak para pendidik di seluruh Kabupaten Ende untuk terus bersinergi dalam mewujudkan visi besar Bupati Ende “Terwujudnya Kabupaten Ende yang Maju, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan Berbasiskan Iman dan Budaya Ende Lio Nage Sare Pawe.”
Kegiatan ini, lanjut Wakil Bupati, juga menjadi bagian dari pelaksanaan program prioritas “Ende Cemerlang” yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia dan menjadikan Ende sebagai Kota Pendidikan. Inisiatif ini sejalan dengan arah pembangunan daerah dalam RPJMD 2023-2026, yang menargetkan Transformasi Digital dan Integrasi Sistem Pendidikan sebagai fondasi untuk mewujudkan Ende Smart Education City.
Salah satu peserta, Kepala SDI Wolowona 1, Hermina Triyanti, mengapresiasi kegiatan ini karena dianggap membantu dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. “Kegiatan tersebut bermanfaat, bagi kami karena memperkenalkan berbagai aplikasi edukasi serta video pembelajaran yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran di kelas nantinya,” kata Hermina.
Menurutnya, tantangan yang mungkin dihadapi adalah jaringan akses internet yang tidak merata di daerah-daerah tertentu menjadi hambatan signifikan dalam implementasi teknologi pendidikan.
Yang kedua, jarak yang jauh dan koneksi internet yang buruk membuat akses ke sumber daya pendidikan menjadi sulit. Banyak sekolah di daerah yang tidak memiliki akses listrik yang stabil dan jaringan internet yang memadai.
“Namun hal ini tidak menyurutkan langkah kami. Tetap sebagai ujung tombak dalam pembentukan generasi penerus bangsa tentunya sangat mendukung peningkatan mutu pembelajaran,” katanya. (rnc16)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan