oleh: Robert Kadang

Jangan mengaku penikmat sambal, jika belum mencoba “Sambal Asett”. Variannya ada dua, sambal cumi-cumi dan sambal cakalang. Diproduksi jauh di pelosok desa. Tapi, “Sambal Asett” kini tembus pasar nasional. Itu karena rasanya yang nikmat. Jadi buruan, dan menggoda selera banyak orang.

Adalah Yaya (25), seorang yang berlatar belakang perawat. Tapi soal meracik sambal, dia jagonya. Sambal terasi. Semuanya bermula di tahun 2023. Sambil menyelesaikan kuliahnya, dia nyambi sebagai pelayan di sebuah resto. Di Kota Kupang. Yaya yang bernama lengkap Yarni Nabuasa, berani menawarkan sambal buatanya, kepada chef resto. “Waktu itu ada pelayan minta tambah sambal. Lalu saya bilang ke chef, kalau cuma sambal seperti ini, saya bisa buat yang lebih enak,” ujarnya percaya diri.

Walau sudah berani menawarkan racikan sambalnya, Yaya butuh waktu menyakinkan para chef agar pas di lidah. “Mereka bilang, masih ada yang kurang, tapi tidak tahu apa yang harus ditambah. Harus pertahankan rasanya, kata mereka. Selama empat bulan, baru ada pengakuan. Sudah mantap. Lalu saya disarankan buka usaha sambal. Puji Tuhan, bisa berjalan,” papar Yaya.

Untuk menambah rasa nikmat, Yaya menambahkan cumi-cumi dan ikan cakalang pada sambal terasinya. Tanpa mengurangi rasa. Terobosannya ini makin menggoda selera. Jadi buruan banyak penikmat sambal. Salah satunya Fransiscus Go, pengusaha Timor yang berkiprah di Jakarta. “Sambalnya enak,” ujar Fransiscus Go pada RakyatNTT.com, usai mengunjungi dapur produksi “Sambal Asett” di Desa Persiapan Pemekaran Desa Saisana, Kecamatan Noebeba, Timor Tengah Selatan, Selasa (24/6/2025).

Yaya mengaku, untuk mendapatkan kenikmatan rasa, sambal yang dia produksi diproses empat kali. “Prosesnya berbulan untuk mendapatkan kualitas dan rasa sambal yang nikmat. Terima kasih atas masukan dan saran teman-teman chef. Dan tak lupa kepada Bapak Fransiscus Go yang telah membimbing dan mengarah saya, sehingga usaha ‘Sambal Asett’ bisa berkembang. Saya tidak percaya beliau mengunjungi dapur produksi kami yang jauh di pelosok desa. Terima kasih banyak pak,” ungkap Yaya.

“Sambal Asett” bukan satu-satunya usaha yang dilakoni Yaya. Profesi perawat menempatkannya sebagai Tenaga Kesehatan Desa. Saking viralnya mengelola “Sambal Asett”, Pemkab Timor Tengah Selatan memintanya menjadi narasumber untuk beberapa kegiatan. “Karena disupport Bapak Fransiscus Go, ‘Sambal Asett’ kini dipasarkan di Shopee, Tik Tok, Facebook, Tokopedia, sampai negara Timor Leste. dan Tokopedia. Bahkan ada kiriman video dari Turki,” sebut Yaya.

Bagaimana dengan bahan baku? Yaya menjelaskan, cumi-cumi dibeli dari Kupang. Sedang ikan Cakalang, selain dibeli dari Kupang, juga di SoE. “Kalau cabe dipasok kaka Peter Salem dan juga petani milenial. Saya menggagas ‘dapur hijau’ supaya suplai cabe bisa terus ada. Dan, ‘apotik hidup’ untuk ketahanan pangan bergizi. Jadi semua bahan baku aman. Dan saya dibantu dua karyawan,” tambah Yaya.

Di akhir wawancaranya, Yaya mengaku makin semangat mengelola usahanya, karena terinspirasi buku “Berani Melangkah” karya Fransiscus Go. “Buku ini relevan dengan awal mula saya memulai usaha. Sangat menginspirasi. Semua orang bisa memulai, tapi tidak semua orang bisa bertahan dalam dunia bisnis. Terima kasih pada costumer yang telah mendukung dan bermitra dengan kami,” pungkasnya. (*)