Pernyataan sederhana, tapi sangat menggambarkan perubahan paradigma: dari instruksi ke kolaborasi. Dari subordinasi ke pemberdayaan. Inilah esensi MBS yang sesungguhnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pertama, pemerintah harus mulai menata ulang pelatihan kepala sekolah. Fokusnya tidak boleh lagi hanya administratif, tetapi pada penguatan kapasitas kepemimpinan, pengambilan keputusan berbasis data, komunikasi strategis, dan manajemen perubahan.

Kedua, beri ruang lebih besar bagi kepala sekolah untuk mengambil risiko. Selama ini, banyak kepala sekolah takut berinovasi karena terkungkung regulasi yang kaku. MBS seharusnya memberi ruang untuk kesalahan yang wajar, selama itu bagian dari proses belajar.

Ketiga, libatkan masyarakat dan guru secara aktif dalam pengambilan keputusan sekolah. Ini bukan soal formalitas rapat, tapi tentang membangun rasa memiliki bersama.

Keempat, monitoring dari dinas pendidikan harus bergeser dari memeriksa dokumen ke mendampingi proses. Dinas seharusnya menjadi mitra belajar, bukan sekadar auditor.

Akhirnya, Ini Tentang Siapa yang Kita Percayai

Kita tak bisa bicara otonomi tanpa berbicara kepercayaan. MBS menuntut kita untuk percaya bahwa sekolah tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Dan itu hanya bisa terwujud jika kita percaya bahwa kepala sekolah mampu memimpin, bukan sekadar melaksanakan.