Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
KETIKA kita membayangkan rumah, yang muncul biasanya adalah kehangatan, pelukan, dan tempat berlindung dari dunia luar. Sayangnya, bagi banyak anak, rumah justru menjadi tempat pertama mereka terluka bukan secara fisik, tetapi secara emosional. Luka yang tak kasat mata, namun membentuk seluruh laku hidup mereka di masa dewasa.
Menurut studi dalam Journal of Child and Family Studies (Liu et al., 2021), luka pengasuhan masa kecil yang tidak terselesaikan memiliki korelasi tinggi dengan gangguan kecemasan, depresi, bahkan PTSD ringan pada masa dewasa. Luka semacam ini bukan hanya soal tindakan kekerasan fisik, tetapi sering kali berupa kata-kata tajam, pengabaian emosional, dan harapan-harapan orang tua yang tidak realistis.
Dalam banyak kasus, luka ini tidak berhenti di masa kecil. Ia tumbuh bersama anak, menyusup ke dalam cara mereka berelasi, menilai diri, hingga memilih pasangan atau pekerjaan. Seperti Budi, yang tumbuh dalam tekanan harus sempurna agar mendapat cinta. Kini, ia hidup dalam bayang-bayang kegagalan dan kelelahan mental. Atau Ani, yang emosinya tak pernah diakui sejak kecil, dan kini kesulitan membuka diri dalam hubungan sosial.
Mengapa luka ini begitu membekas? Karena ia menyentuh inti terdalam dari siapa kita: kebutuhan untuk dicintai, dihargai, dan diterima. Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa mereka meneruskan luka yang mereka warisi dari generasi sebelumnya. Psikolog klinis Dr. Nicole LePera (2022) menyebut ini sebagai intergenerational trauma trauma yang diwariskan secara tidak sadar dari satu generasi ke generasi berikutnya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan