Suasana yang tadinya adem mendadak berubah. Nada bicara meninggi. Argumen berbalas argumen. Hingga pada satu titik, lembaran-lembaran skripsi Yallo beterbangan.

Ruangan mendadak sunyi. Kami yang berada di sana hanya bisa diam dan menyaksikan perdebatan dua imam dengan kepakaran dan pandangan yang berbeda.

Lalu terdengar pernyataan tegas: nilai tidak akan diberikan. Di titik itulah, mungkin hanya Yallo yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya.

TOP -Tahun Orientasi Pastoral- sudah di depan mata. Tetapi nilai ujian skripsi belum ada. Dan tanpa nilai itu, jalan menuju tahap berikutnya tentu menjadi tanda tanya.

Bagi sebagian orang, mungkin situasi seperti itu sudah cukup untuk menyerah. Menanggalkan jubah. Pulang. Mengakhiri semuanya. Tetapi Yallo tidak memilih jalan itu. Dia tetap tenang. Tetap bertahan dan akhirnya, nilai itu diberikan.

Sebagai teman yang sama-sama memiliki darah Lio Ende, saya tentu bersyukur mengetahui Yallo akhirnya mendapatkan nilai. Sebab, saya tahu, kalau saat itu Yallo tidak mendapatkan nilai, mungkin jalan yang pernah lebih dahulu saya lalui akan kembali dilalui olehnya.

 

Tuhan memang punya cara-Nya sendiri. Kadang-kadang, sebuah panggilan tidak berjalan lurus seperti yang kita bayangkan. Ada ujian. Ada keraguan. Ada perdebatan. Bahkan ada saat ketika beberapa lembar skripsi beterbangan dan masa depan terasa seperti berada di ujung tanduk.