Kupang, RakyatNTT.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, melalui inovasi agroindustri berbasis limbah bonggol jagung.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut diluncurkan di Kantor Desa Oesao, Jumat (11/9/2026), dengan mengintegrasikan teknologi pengolahan bonggol jagung menjadi pakan ternak dan teknik hugelkultur untuk mengoptimalkan lahan pekarangan yang berkarang dan berkapur.

Program ini menyasar 20 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Indah yang dipimpin Nelci N. Seubelan, serta melibatkan Karang Taruna Oesao dengan dukungan Pemerintah Desa Oesao.

Iklan

Tim PKM Undana diketuai Dewi Elfrida Sihombing, M.Si., bersama anggota I Kadek Yoga Kertiyasa, S.Pt., M.Pt., dan Erry Ersani, M.Pd. Sejumlah mahasiswa Program Studi Peternakan Undana juga dilibatkan dalam pelaksanaan program tersebut.

Rangkaian kegiatan mencakup hibah dan instalasi mesin penepung serta pencetak pelet, pelatihan pembuatan pakan ayam KUB berbasis bahan lokal, pembuatan kotak raised bed, hingga penyiapan budidaya jamur janggel dan diversifikasi produk olahannya.

Bonggol Jagung Diubah jadi Pakan Ternak

Program ini menjadi bentuk penerapan teknologi tepat guna hasil riset perguruan tinggi yang langsung diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat pedesaan.

Salah satu fokus utama adalah mengolah bonggol jagung yang selama ini menjadi limbah pertanian menjadi bahan baku pakan ternak. Inovasi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan pabrikan yang relatif mahal.

Harga pakan pabrikan disebut mencapai sekitar Rp455.000 per sak berisi 50 kilogram, sementara harga jagung pipil berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.

Melalui teknologi penepungan, fermentasi dan formulasi ransum berbasis bahan lokal, limbah bonggol jagung dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari bahan pakan ternak.

Untuk mendukung proses produksi, tim PKM Undana menyerahkan sekaligus memasang dua unit mesin di lokasi mitra.

Mesin pertama berupa mesin penepung dengan kapasitas 80–100 kilogram per jam dan daya 6,5 HP. Sementara mesin pencetak pelet memiliki kapasitas 100–120 kilogram per jam dengan daya 8 HP.

Uji coba mesin yang dilakukan pada 6 September 2026 menunjukkan peralatan tersebut mampu mengolah bonggol jagung menjadi tepung dan pelet pakan berukuran 4–6 milimeter.

Dalam praktik pengolahan, tim Undana memperagakan tiga siklus awal produksi pelet ternak dengan memasukkan sekitar 10 persen tepung bonggol jagung terfermentasi ke dalam formulasi pakan ayam KUB.

Tahapan kemudian dilanjutkan dengan pencetakan pelet dan pengeringan agar pakan lokal yang dihasilkan dapat disimpan dan digunakan secara lebih efisien.

Hugelkultur Atasi Lahan Pekarangan Berkarang

Selain peternakan, program PKM Undana juga menyasar persoalan keterbatasan lahan produktif di Desa Oesao.

Kondisi pekarangan yang didominasi tanah berkarang dan berkapur menjadi tantangan bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman pangan.

Sebagai solusi, tim pengabdi bersama masyarakat membuat empat kotak raised bed berukuran 1 x 2 meter.

Media tanam menggunakan bahan-bahan organik seperti kotoran sapi, serbuk kayu dan sekam. Bahan tersebut difermentasi menggunakan larutan EM4 selama 14 hari sebelum digunakan sebagai media tanam.

Setelah proses fermentasi selesai, tim Undana bersama warga melakukan penyemaian bibit sayuran pada kotak raised bed tersebut.

Penerapan teknik ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pekarangan sekaligus mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi sumber pangan dan peluang ekonomi keluarga.

Limbah Bonggol Jagung jadi Media Jamur

Inovasi tidak berhenti pada pakan ternak dan pemanfaatan pekarangan.

Tim PKM Undana juga menyiapkan diversifikasi usaha melalui budidaya jamur janggel dengan memanfaatkan limbah bonggol jagung.

Media budidaya disiapkan dalam kotak khusus yang dirancang sebagai tempat tumbuh jamur dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Hasil panen nantinya diarahkan untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah, antara lain jamur krispi dan nugget jamur.

Diversifikasi tersebut diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi anggota KWT Mekar Indah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Pendampingan Berkelanjutan hingga Oktober

Program pemberdayaan tersebut telah melalui sejumlah tahapan sebelum peluncuran. Sosialisasi dan identifikasi kebutuhan mitra dilakukan pada 6 Mei 2026, dilanjutkan finalisasi spesifikasi mesin pada 6 Juni 2026.

Serah terima hibah peralatan kemudian dilaksanakan pada 10 Agustus 2026.

Setelah peralatan diterima, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu mengoperasikan dan merawat teknologi yang diberikan secara mandiri.

Pada Oktober 2026, tim Undana menjadwalkan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) untuk memantau perkembangan program.

Evaluasi akan mencakup mutu pelet yang dihasilkan, pemeliharaan media tanam, serta perawatan mesin produksi.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting agar kegiatan tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi dapat berkembang menjadi usaha produktif yang berkelanjutan.

Undana Dorong Oesao jadi Agroindustri Mandiri

Program PKM ini memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan ekonomi masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna.

Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Undana, KWT Mekar Indah, Karang Taruna serta Pemerintah Desa Oesao menjadi fondasi pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan pakan dan media budidaya jamur sekaligus penerapan teknik hugelkultur menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Melalui program tersebut, Undana menargetkan tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya perempuan desa, sekaligus mendorong Desa Oesao menuju kawasan agroindustri yang lebih produktif, ramah lingkungan dan berdaya saing. (*/rnc)