oleh: Robert Kadang

Diplomasi, adalah seni dan praktik mengelola hubungan dan menyelesaikan masalah antar pihak dengan cara damai, melalui dialog, negosiasi dan tanpa kekerasan. Itu kata AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan. Pendekatan ini, oleh banyak kalangan dianggap mumpuni. Karena menghadirkan suatu nilai: persaudaraan, se-nasib dan se-penanggungan.

Nongki-nongki di warung kopi, penuh makna. Rileks dan tanpa beban pun serasa di rumah sendiri. Kalau perbincangan terlalu serius, sering kali ada yang langsung nyelutuk: santai mo ko..! (Mangkasara’ language).

Jenderal (Purn) Frederik Kalalembang (JFK) sepertinya memahami betul fenomena kekinian itu. Datang ke Kota Makassar untuk menyerap aspirasi masyarakat, dia melakukannya di Warung Kopi (warkop) “Tong Sang”. Moment tersebut berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026. Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat itu berdialog dengan warga dari berbagai elemen. Tokoh masyarakat, aparat, insan pers, dan mereka yang tergabung dalam Komunitas “Sahabat JFK”.

Menurut JFK, di warung kopi-lah, berbagai informasi bisa serap. “Kita bisa mendengar langsung, apa yang dikeluhkan masyarakat. Di warung kopi pula-lah, kita bisa saling bertukar pikiran tentang apa yang bisa kita perbuat bagi daerah kita,” kata JFK.