Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan penerimaan devisa sekaligus memperkuat cadangan devisa nasional.
BI juga akan mengoptimalkan sejumlah instrumen, termasuk intervensi valuta asing, kebijakan suku bunga, lindung nilai, pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, serta pengelolaan likuiditas dan cadangan devisa.
Pengawasan terhadap bank dan korporasi yang melakukan pembelian dolar AS dalam jumlah besar juga akan diperkuat melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kemudian juga Bank Indonesia akan terus memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi melalui koordinasi dengan OJK, serta memperkuat ketentuan pelaporan lalu lintas devisa,” jelas Destry.
Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Global
Rangkaian kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat pasokan devisa sekaligus menjaga volatilitas nilai tukar rupiah.
Namun, dalam jangka pendek, rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal. Penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi pemerintah AS, ketegangan geopolitik serta lonjakan harga minyak menjadi kombinasi tekanan yang dapat membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.
Perkembangan konflik AS-Iran, data ekonomi Amerika Serikat, serta keputusan The Fed pada pertengahan September akan menjadi faktor penting yang menentukan arah rupiah dalam beberapa pekan ke depan. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan