Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sebagian pengungsi hanya menggunakan terpal dan tikar sebagai alas tidur. Bahkan, beberapa terpal yang digunakan telah mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut juga ditemukan di sejumlah titik pengungsian mandiri di pinggir jalan raya, termasuk kawasan Cibal.
Menurut Vento, distribusi bantuan bahan pokok belum sepenuhnya menjangkau seluruh pengungsi mandiri.
“Banyak warga dan mahasiswa kami yang tinggal di pengungsian mandiri belum mendapatkan sembako. Mereka tidur di atas tanah beralaskan tikar seadanya. Kondisi psikologis dan fisik masyarakat benar-benar teruji di sana,” ujarnya.
Perjalanan 20 Kilometer Bisa Habiskan 3,5 Jam
Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu kendala utama dalam pendistribusian bantuan.
Fransiskus mengatakan perjalanan dari Pagal menuju Cibal Barat yang secara jarak hanya sekitar 20 kilometer membutuhkan waktu hingga tiga setengah jam.
Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan dengan jarak tersebut dapat ditempuh sekitar satu jam.
Kondisi jalan yang retak dan tertutup material longsor membuat kendaraan harus bergerak secara perlahan dan berhati-hati.
“Kalau jarak dari kota, Cibal itu mungkin sekitar 19, 20 kilometer, dengan waktu tempuh normal 1 jam maksimal, tapi waktu itu kami tempuh dalam waktu sekitar tiga jam setengah,” jelas Fransiskus.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan