Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Igi membuka lapak dengan menjual ayam geprek dan pentol goreng selama berlangsungnya kompetisi.
Ia mengaku awalnya hanya mencoba berjualan karena ingin memanfaatkan momentum ketika klub dari desanya bertanding. Namun, tingginya antusiasme penonton membuat dagangannya justru mendapat respons positif.
Bahkan, makanan yang dijualnya dapat habis dalam satu malam.
“Saya baru dua hari buka, tetapi puji Tuhan jualan bisa habis. Jujur, dalam sehari ini sudah mau mencapai Rp1 juta,” ungkap Igi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan kompetisi olahraga di tingkat masyarakat dapat menciptakan efek ekonomi berantai.
Ketika pertandingan menghadirkan banyak penonton dari berbagai desa, kebutuhan terhadap makanan, minuman, hiburan dan berbagai produk UMKM ikut meningkat.
BMC II akhirnya tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuan di lapangan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara olahraga, hiburan dan ekonomi rakyat. (rnc04)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan