“Sambil menunggu rumah siap disambung, warga tidak dibiarkan gelap. PLN menyiapkan genset di posko, lampu darurat untuk keluarga, lampu surya untuk daerah terpencil, serta penerangan langsung di tenda pengungsian,” kata Dwi.

Selain dukungan kelistrikan, PLN juga memberikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang masih berada dalam masa tanggap darurat.

“Mungkin bantuan kami tidak seberapa, tapi setidaknya bantuan yang kami bisa dinikmati dan dirasakan warga,” tambahnya.

Listrik Jadi Harapan di Tengah Trauma Gempa

Warga Desa Tonggurambang lainnya, Isna, menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas PLN yang bekerja siang dan malam untuk memulihkan jaringan listrik setelah gempa.

Menurutnya, penerangan memiliki arti penting bagi warga yang masih diliputi rasa takut dan cemas akibat bencana.

Setelah sekitar satu minggu mengalami pemadaman, warga akhirnya dapat kembali menikmati cahaya listrik pada malam hari.

“Alhamdulillah Pak, saya pribadi puas. Terima kasih PLN. Akhirnya kami tidak gelap lagi. Saya, anak dan suami senang sekali. Jujur kalau malam gelap kami takut sekali, dan rasa takut, cemas pokoknya campur aduk. Sekali lagi terima kasih Unit Layanan PLN Mbay.”