“Kita sekarang ini bukan private good lagi, kita ini public good. Sudah menjadi milik dari masyarakat. Jadi harus terima konsekuensinya bahwa apa pun yang kita lakukan itu akan diperhatikan oleh masyarakat, khususnya Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Karena itu, Prof. Jefri meminta seluruh jajaran tidak alergi terhadap kritik dan masukan yang datang dari masyarakat.

Menurutnya, kritik, baik yang bersifat konstruktif maupun keras, perlu dilihat sebagai momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan dan tata kelola universitas.

“Lepas dari benar atau salah kita, inilah momentum kita untuk melakukan refleksi agar pelayanan kita di Undana itu makin lebih baik,” ujarnya.

Menuju Undana World Class – Locally Relevant University

Prof. Jefri menegaskan, evaluasi harus diarahkan pada perbaikan berkelanjutan.

Hal-hal yang belum baik harus diperbaiki, sementara aspek yang sudah berjalan baik perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Undana mewujudkan visi sebagai World Class – Locally Relevant University, yakni perguruan tinggi yang mampu memiliki daya saing global tanpa kehilangan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat NTT.

Pelantikan 28 pejabat tersebut pun diharapkan tidak hanya menjadi agenda administratif, tetapi menjadi titik awal penguatan budaya kerja yang berorientasi pada integritas, empati, profesionalisme dan pelayanan publik. (*/rnc)