Gelar adat merupakan bentuk simbolik dari pengakuan masyarakat. Pengakuan ini dapat memperkuat legitimasi sosial yang kemudian dapat menjadi modal secara politik. Pada ruang ini budaya dan politik kemudian bertemu. Gelar adat tidak membuat seseorang menjadi penguasa secara formal. Gelar hanya dapat memperkuat persepsi bahwa seseorang tetap memiliki kedudukan dan pengaruh.

Antonio Gramsci mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui jabatan dan institusi negara. Kekuasaan juga bekerja melalui penerimaan, persetujuan dan pengakuan masyarakat. Karena itu, mempertahankan pengaruh setelah tidak lagi berkuasa membutuhkan cara yang baru untuk menjaga legitimasi di ruang publik.

Karena itu, saya tidak ingin terjebak pada perdebatan siapa yang pantas menerima gelar adat. Yang perlu didiskusikan adalah ketika gelar adat itu hadir diatas panggung politik, apakah adat dan budaya tetap milik masyarakat atau mulai berubah menjadi instrument legitimasi kekuasaan? Sebab, ketika simbol adat digunakan untuk memperkuat citra politik, yang terjadi adalah perubahan fungsi secara simbolik.

Demokrasi membutuhkan gagasan

Safari politik dapat diartikan bukan sekedar perjalanan seorang mantan presiden. Safari politik yang dilakukan adalah cara menjaga hubungan dengan publik, mempertahankan popularitas, dan memperkuat jejaring politik. Gelar adat yang diberikan dalam agenda safari akan memberi kesan pengakuan dan pengaruh yang masih dimiliki.