Namun, setelah turun dari kekuasaan, bahasa simbolik yang mengiringi citra politiknya tampak mengalami perubahan. Jika dahulu citra politik Jokowi dibangun melalui kesederhanaan, kedekatan dengan rakyat, dan gaya blusukan, kini muncul simbol-simbol lain yang berhubungan dengan adat, kerajaan dan gelar kehormatan.

Di Lampung, Jokowi menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dari komunitas adat Lampung dalam rangkaian safari politiknya. Di NTT, mendapatkan gelar sebagai “Sesepuh Raja-raja Timor”. Dalam politik, peristiwa yang terjadi berulang sering kali tidak lagi dibaca sebagai kebetulan, melainkan bagian dari sebuah pola yang didesain. Secara kebudayaan, kedua pemberian gelar tersebut tentu memiliki konteks dan makna tersendiri. Akan tetapi jika dilihat dalam rangkaian perjalanan politik sebagai tokoh nasional, simbol-simbol tersebut memiliki dimensi lain yang perlu dicermati.

Topi atau pilu yang disematkan di kepala dan sarung atau kain adat yang diberikan secara budaya adalah bentuk penghormatan. Dalam tradisi masyarakat Timor, simbol-simbol yang disematkan merupakan ekspresi penghormatan kepada tamu yang diterima secaraa adat. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai modal simbolik, yaitu bentuk pengakuan sosial yang memberikan seseorang kehormatan, prestise, kewibawaan, dan legitimasi. Bentuknya tidak harus berupa kekuasaan formal, tetapi memiliki efek kuasa karena masyarakat mengakui nilai simboliknya.