Mbay, RakyatNTT.ID – Memasuki hari ke-13 setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, sejumlah warga terdampak di Kabupaten Nagekeo masih bertahan di posko-posko pengungsian.

Kondisi tersebut terutama dirasakan warga di sejumlah desa yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses yang relatif sulit dijangkau.

Gempa dahsyat yang disusul isu tsunami tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum. Tidak sedikit warga mengalami luka-luka, trauma, bahkan kehilangan anggota keluarga.

Di Kota Mbay dan wilayah sekitarnya, sebagian warga masih menempati posko pengungsian. Namun, di balik situasi tersebut, terdapat pula warga di desa-desa terpencil yang memilih bertahan di tenda pengungsian maupun mengungsi secara mandiri.

Sebagian posko menggunakan tenda bantuan bertuliskan BNPB sebagai tempat berlindung sementara karena rumah mereka mengalami kerusakan dan belum layak ditempati.

Warga Kotagana Masih Butuh Tenda dan Selimut

Kondisi warga terdampak di wilayah terpencil tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Provinsi NTT Paulinus Yohanes Nuwa Veto bersama Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo Maria Imakulata Embula.