Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai batasan penggunaan AI dalam aktivitas akademik, termasuk bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut tanpa mengorbankan integritas karya ilmiah.
Diskusi juga membahas bagaimana menyusun karya ilmiah yang tetap memenuhi standar akademik sekaligus dapat dipertanggungjawabkan proses pembuatannya.
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pemahaman etika penggunaan AI semakin penting seiring teknologi tersebut menjadi bagian dari kehidupan akademik sehari-hari.
Bukan Sekadar Sanksi, tetapi Membangun Karakter
Menutup pemaparannya, Dr. Yeheskial menegaskan bahwa berbagai aturan, mekanisme pengaduan dan sanksi pada dasarnya bukan tujuan akhir dari penerapan integritas akademik.
Lebih dari itu, seluruh instrumen tersebut diarahkan untuk membangun karakter civitas akademika yang jujur dan berintegritas.
“Ini bukan sekadar soal sanksi. Sanksi itu ada, tetapi yang paling penting di dalam dunia akademik adalah bagaimana kita mau membangun budaya akademik yang berintegritas,” tutupnya.
Melalui pelatihan tersebut, FEB Undana menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk AI, harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai akademik.
Di tengah kemudahan teknologi dalam menghasilkan teks, mengolah informasi dan membantu proses penelitian, kejujuran ilmiah tetap menjadi fondasi utama agar karya akademik memiliki kualitas, kredibilitas dan dapat dipertanggungjawabkan. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan