Ia menegaskan, GMIT berkomitmen memberikan pelayanan kemanusiaan secara tulus sesuai visi gereja.

Menurutnya, penanganan bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena dampak bencana tidak mungkin ditangani oleh satu lembaga saja.

Karena itu, GMIT mendorong penguatan kerja sama antara gereja, pemerintah, relawan, lembaga kemanusiaan, donor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pos Terpadu Dorong Bantuan Tepat Sasaran

Ketua Umum Pos Terpadu Ebenhaezer Bajawa, Jemy Manu, mengatakan penguatan sinergi, konsolidasi, serta pendataan cepat menjadi faktor penting dalam penanganan bencana.

Menurutnya, data yang akurat dan mengacu pada standar penanggulangan bencana akan membantu memastikan bantuan dari mitra, donor, maupun lembaga internasional dapat disalurkan secara tepat sasaran.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.

Jemy juga menegaskan bahwa pelayanan di lapangan dilakukan secara inklusif tanpa membedakan suku, agama, maupun denominasi.

“Kehadiran fisik dan dukungan doa para pelayan pada fase awal tanggap darurat sangat krusial untuk menguatkan jemaat, sekaligus mendorong pemulihan masyarakat terdampak agar tidak terus berada dalam pola pikir sebagai korban, melainkan mampu bangkit dengan memupuk semangat ketangguhan dari dalam diri,” tegas Jemy.

150 Warga Jemaat Ebenhaezer Mbai Mengungsi

Berdasarkan laporan Pos Terpadu Bencana Alam Ebenhaezer Bajawa per 16 Agustus 2026, sebanyak 50 kepala keluarga atau 150 jiwa dari Jemaat Ebenhaezer Mbai mengungsi secara mandiri.