Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Tidak tahu warga di dusun yang lain. Saat ini air sudah jernih kembali,” katanya.
Kons menjelaskan, saat gempa pertama terjadi, lokasi mata air diduga tertimbun material longsor. Longsoran tersebut kemudian menutup jalur air dari sumber menuju tempat penampungan.
“Benar, untuk air beberapa hari ini memang keruh karena saat gempa awal, lokasi mata air bersih itu tertimbun longsor. Mata air di lokasi itu sangat besar,” jelasnya.
Menurut Kons, warga baru akan melakukan pembersihan setelah kondisi benar-benar aman. Saat ini, mereka masih mempertimbangkan risiko longsor dan gempa susulan.
“Situasi sekarang kembali kondusif dulu. Baru kami bersama warga bisa naik ke lokasi tersebut untuk membersihkan. Untuk saat sekarang belum bisa. Situasi aman dulu,” ujarnya.
Kerusakan Bangunan hingga Rumah Warga
Selain persoalan air bersih, Kons menyebut gempa juga menyebabkan sejumlah kerusakan di Desa Bidoa.
Beberapa bangunan yang terdampak antara lain sekolah, kios, hingga rumah warga.
“Banyak beberapa di sini juga kena dampak kerusakan, mulai dari bangunan sekolah, kios hingga rumah warga,” katanya.
Warga pun masih berada dalam kondisi siaga dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Posko Swadaya Warga Dibentuk
Pemerintah telah membangun posko penanggulangan bencana pascagempa bumi Magnitudo 7,7 di wilayah NTT. Namun, Kons mengatakan masyarakat Desa Bidoa juga berinisiatif membentuk posko secara mandiri untuk membantu warga di tengah situasi darurat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan