Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Biasanya air keruh warna kecokelatan ini terjadi saat musim hujan. Setelah hujan reda, air kembali jernih. Tapi di sini tidak hujan selama gempa. Sudah tiga hari kami coba membuat endapan, tetapi warna air tetap tidak berubah,” ujarnya saat dihubungi, Senin (17/8/2026).
Menurut Antonius, kondisi tersebut membuat warga khawatir menggunakan air untuk memasak dan minum, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.
“Baru kali ini kejadian seperti ini. Kami mau masak juga takut. Bukan hanya kami di sini, tetapi ada beberapa dusun yang juga takut mengonsumsi air,” katanya.
Mata Air Diduga Tertimbun Longsor
Antonius menduga sumber masalah berasal dari lokasi mata air yang kemungkinan mengalami gangguan akibat longsor setelah gempa.
Namun, warga belum berani mendatangi lokasi mata air karena kondisi medan yang masih rawan.
“Mungkin di sumber mata air kotor dan perlu dibersihkan. Tapi kami masyarakat takut naik ke lokasi mata air karena jaraknya jauh dan rawan longsor,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Nagekeo maupun BPBD segera turun tangan untuk memastikan keamanan dan ketersediaan air bersih bagi warga.
“Untuk saat ini kami sangat berharap Pemda Nagekeo merespons terkait air bersih ini. Kami orang dewasa mungkin tidak apa-apa minum, tetapi kami takut dengan anak kecil dan ibu hamil,” harap Antonius.
Air Mulai Jernih, tetapi Warga Masih Waspada
Sementara itu, warga lainnya, Kosmas Laga atau yang akrab disapa Kons, mengatakan kondisi air di wilayahnya mulai berangsur jernih dan sudah dapat digunakan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan