Menurut Krisman, Lomba Ledo, Pedoa, Tari Kreasi dan Fashion Show Modifikasi Tenun Ikat tidak boleh dipandang hanya sebagai ajang perlombaan.

“Lomba Ledo, Pedoa, Tari Kreasi dan Fashion Show Modifikasi Tenun Ikat Sabu Raijua bukan sekadar ajang kompetisi. Kegiatan ini merupakan ruang pembelajaran, ruang ekspresi dan ruang pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda,” kata Bupati Krisman.

Ia menegaskan, budaya Sabu Raijua harus terus dihidupkan, dikembangkan dan diperkenalkan lebih luas. Budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan generasi masa kini.

Iklan

Ledo dan Pedoa, kata Krisman, merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Sabu Raijua yang mengandung nilai kebersamaan, persatuan, penghormatan serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, tari kreasi menunjukkan bahwa kebudayaan dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri. Begitu pula dengan fashion show modifikasi tenun ikat yang menjadi ruang untuk memperkenalkan motif, kain dan busana khas Sabu Raijua.

Budaya Didorong jadi Kekuatan Ekonomi

Bupati Krisman juga melihat potensi besar budaya sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah, khususnya dalam mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif.