Lewoleba, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Lembata terus memperkuat pembangunan sektor pertanian dengan membenahi infrastruktur pendukung produksi pangan.

Salah satu fokusnya adalah kawasan persawahan Waikomo yang diproyeksikan menjadi salah satu sentra produksi padi di daerah tersebut.

Komitmen itu ditunjukkan Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq saat melakukan kunjungan kerja ke kawasan persawahan Urumitem Waikomo, Rabu (12/8/2026).

Iklan

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Kanis Tuaq meninjau langsung pembangunan jaringan irigasi parit tersier yang kini telah mencapai progres sekitar 70 persen.

Jaringan irigasi sepanjang 275 meter itu dikerjakan secara swakelola oleh kelompok petani dengan dukungan anggaran APBN melalui Dinas Pertanian Kabupaten Lembata Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp100 juta.

Bupati Ikut Tanam Padi Bersama Petani

Selain memantau pembangunan irigasi, Bupati Kanis Tuaq berdialog langsung dengan para petani sawah Waikomo. Ia juga ikut dalam kegiatan tanam padi untuk kedua kalinya bersama masyarakat petani.

Kehadiran Bupati menjadi momentum untuk membangun komunikasi langsung antara pemerintah dan petani sekaligus mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengembangan kawasan pangan tersebut.

Dalam dialog itu, Kanis Tuaq mendorong penerapan pola tanam dua kali padi dan satu kali jagung sebagai strategi meningkatkan produktivitas lahan.

Namun, pola tersebut belum dapat diterapkan di kawasan persawahan Waikomo karena keterbatasan luas lahan untuk pengembangan tanaman jagung.

Selain itu, Kementerian Pertanian telah memberikan arahan agar kawasan persawahan Waikomo tetap difokuskan sebagai sentra produksi komoditas padi.

Petani Soroti Irigasi hingga Benih Unggul

Sejumlah aspirasi disampaikan petani kepada Bupati, mulai dari persoalan jaringan irigasi, ketersediaan benih unggul, hingga kebutuhan alat dan mesin pertanian atau alsintan.

Petani berharap dukungan pemerintah terhadap sarana produksi terus diperkuat sehingga produktivitas dan hasil panen dapat meningkat.

Salah seorang petani, Oni Lejap, mengatakan kondisi saluran irigasi yang belum permanen masih menjadi salah satu kendala utama. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap distribusi debit air ke areal persawahan.

Selain irigasi, petani juga menaruh perhatian pada pengembangan dan perluasan lahan sawah.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah serangan hama wereng yang menyebabkan petani mengalami gagal panen pada musim tanam pertama 2026.

Ketersediaan benih varietas unggul dan seragam juga dinilai penting untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian di Waikomo.

Benih Seragam jadi Kunci Tingkatkan Produksi

Petugas Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian, Monika Wuwur, menjelaskan bahwa salah satu tantangan petani sawah Waikomo adalah sulitnya mendapatkan benih dengan varietas yang sama.

“Selama ini para petani mencari benih secara mandiri, akibatnya benih varietas tidak seragam,” ujar Monika.

Menurutnya, keseragaman varietas menjadi faktor penting untuk mendukung pola tanam serentak dan meningkatkan produktivitas.

Selain itu, penggunaan varietas yang seragam juga dapat membuka peluang kerja sama pemasaran hasil panen dengan Perum Bulog.

Monika juga menyoroti kebutuhan fasilitas pertanian untuk mempercepat pengolahan lahan dan proses pascapanen.

Petani membutuhkan alat tanam berukuran sedang, ekskavator mini untuk memperbaiki pematang sawah, serta dua unit combine harvester mini.

“Pengolahan lahan masih lambat dan proses pascapanen terlambat. Kalau ingin meningkatkan indeks pertanaman (IP), maka fasilitas pertanian harus siap agar biaya produksi bisa ditekan dan waktu kerja lebih efisien,” jelasnya.

Waikomo Berpotensi Hasilkan 114 Ton Gabah

Saat ini, luas areal persawahan Waikomo yang sedang diolah mencapai sekitar 38 hektare.

Jika produktivitas rata-rata mencapai tiga ton gabah per hektare, kawasan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 114 ton gabah dalam satu musim panen.

Potensi produksi tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi Bulog untuk menyerap hasil panen petani secara langsung.

Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan pola tanam serentak dan penggunaan benih dengan varietas yang seragam.

Dengan dukungan infrastruktur, sarana produksi, benih berkualitas, dan pendampingan yang konsisten, kawasan persawahan Waikomo berpeluang berkembang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan Kabupaten Lembata.

Irigasi Waikomo Ditargetkan Tuntas Bertahap hingga 2028

Pemerintah Kabupaten Lembata bersama penyuluh pertanian terus melakukan pendampingan kepada petani, termasuk melalui pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi tersier.

Pemerintah menargetkan persoalan jaringan irigasi di kawasan persawahan Waikomo dapat dituntaskan secara bertahap hingga 2028.

Bupati Kanis Tuaq menegaskan pembangunan pertanian tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi. Pemerintah juga harus memastikan petani memperoleh dukungan infrastruktur dan sarana produksi yang memadai.

“Dengan sentuhan pemerintah yang dilakukan secara bertahap, kita berharap petani Waikomo mampu meningkatkan produktivitas dan mencapai target tiga kali panen dalam setahun,” ujar Kanis Tuaq.

Terkait kebutuhan alsintan yang menjadi salah satu aspirasi utama petani, Bupati memastikan pemerintah daerah akan berupaya memenuhinya secara bertahap sesuai kemampuan fiskal daerah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Lembata dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong transformasi sektor pertanian agar semakin produktif, modern, dan berdaya saing.

Jika dukungan irigasi, benih unggul, alsintan, serta pola tanam serentak dapat berjalan optimal, kawasan persawahan Waikomo diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap produksi pangan dan kesejahteraan petani Lembata. (*/rnc)