Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang terus memperkuat reformasi tata kelola perguruan tinggi melalui penerapan sistem manajemen risiko terintegrasi.
Langkah strategis tersebut ditandai dengan pembukaan Workshop dan Pelatihan Manajemen Risiko yang berlangsung di Aula Prof. Agus Benu, Gedung Pascasarjana Lantai III Undana, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari hingga Sabtu (11/7/2026) itu merupakan hasil kolaborasi antara Satuan Pengawas Internal (SPI) Undana dengan PT Hanriz Utama Indonesia.
Workshop mengangkat tema “Membangun Budaya Manajemen Risiko: Evaluasi Maturitas Tata Kelola untuk Memperkuat Keberlanjutan Universitas Nusa Cendana Menuju World Class University.”
Program ini menjadi bagian dari komitmen Undana membangun tata kelola perguruan tinggi yang lebih profesional, akuntabel, transparan, dan berorientasi pada pengelolaan risiko di setiap lini organisasi.
Rektor: Risiko Harus Dikelola, bukan Dihindari
Workshop dibuka langsung oleh Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., didampingi Wakil Rektor II Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., Wakil Rektor IV Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., serta Ketua SPI Undana Prof. Dr. Chaterina Agusta Paulus, M.Si.
Selain diikuti pimpinan fakultas, dosen, dan tenaga kependidikan Undana, kegiatan tersebut juga dihadiri delegasi dari Universitas Timor (Unimor) yang ingin mempelajari implementasi sistem manajemen risiko di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa mengelola perguruan tinggi dengan lebih dari 35 ribu mahasiswa dan anggaran yang mendekati Rp500 miliar membutuhkan sistem pengendalian risiko yang kuat.
Menurutnya, Undana telah memetakan sedikitnya lima risiko utama yang harus dikelola secara berkelanjutan, yakni risiko akademik, pelayanan mahasiswa, tata kelola keuangan, reputasi institusi, serta risiko hukum.
“Risiko tidak dapat dihindari, tetapi wajib diminimalkan melalui pengukuran dan pengelolaan yang baik. Manajemen risiko harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap keputusan di Undana. Kita harus mampu mengenali potensi masalah dan mengukur dampaknya sebelum berkembang menjadi krisis kelembagaan,” tegas Prof. Jefri Bale.
Setiap Pimpinan Unit Menjadi Risk Owner
Ketua SPI Undana, Prof. Chaterina Agusta Paulus, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak berhenti pada penyusunan dokumen administrasi berupa risk register.
Setelah workshop, setiap dekan dan kepala unit diwajibkan menjadi risk owner atau penanggung jawab risiko di unit kerja masing-masing. Mereka bertanggung jawab menyusun strategi mitigasi dan rencana cadangan (Plan B) terhadap berbagai potensi persoalan, mulai dari risiko penurunan akreditasi program studi hingga perlindungan aset universitas.
Menurut Prof. Chaterina, sejak tahun 2023 sebanyak 108 aparatur Undana telah mengikuti pelatihan manajemen risiko. Namun, sekitar 38 persen di antaranya belum mengikuti sertifikasi profesi.
Melalui pendampingan PT Hanriz Utama Indonesia, peserta yang belum tersertifikasi ditargetkan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikasi profesional seperti Certified Risk Associate (CRA) maupun Certified Risk Management Professional (CRMP).
Tinggalkan Pola Kerja Reaktif
Penerapan manajemen risiko dinilai menjadi langkah penting untuk mengubah pola pengelolaan birokrasi kampus yang selama ini cenderung bersifat reaktif.
Dengan sistem tersebut, setiap potensi persoalan dapat dipetakan sejak dini sehingga keputusan strategis tidak lagi diambil setelah krisis terjadi.
Pendekatan ini juga diharapkan mampu memperkuat tata kelola keuangan, menjaga kualitas layanan akademik, melindungi aset universitas, serta mengurangi potensi persoalan hukum yang dapat berdampak terhadap reputasi institusi.
Selain itu, sistem deteksi dini (early warning system) akan memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan anggaran universitas sehingga setiap risiko operasional maupun administratif dapat diantisipasi lebih awal.
Menuju World Class University
Melalui penguatan budaya manajemen risiko, Undana menargetkan peningkatan governance maturity atau tingkat kematangan tata kelola sebagai bagian dari transformasi menuju World Class University.
Komitmen tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Undana sebagai perguruan tinggi negeri yang mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas, serta tata kelola yang adaptif terhadap berbagai tantangan di masa depan.
Dengan sistem manajemen risiko yang terintegrasi, Undana optimistis mampu menjaga keberlanjutan institusi sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan