Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat melalui posisi cadangan devisa.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, meskipun pemerintah tetap melakukan pembayaran utang luar negeri serta intervensi pasar valuta asing.
Bank Indonesia menilai posisi tersebut masih berada pada level yang aman karena setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.
Cadangan devisa tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus menopang stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif
Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi berbagai sentimen eksternal, terutama hasil notulen rapat FOMC yang akan menjadi acuan pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ia memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Menurutnya, selama ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed masih tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diperkirakan belum akan mereda. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan