Ia menambahkan, kembali meningkatnya permusuhan di kawasan Timur Tengah membuat pasar kembali mengkhawatirkan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.

Selain faktor geopolitik, Ibrahim menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi penyebab melemahnya mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar AS yang dinilai lebih aman.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menunggu rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni untuk mendapatkan gambaran arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Defisit APBN Tambah Tekanan

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi fiskal pemerintah. APBN Semester I-2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun.

Menurut Ibrahim, pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan belanja pemerintah meningkat lebih cepat dibandingkan penerimaan negara. Kondisi tersebut mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.