Salah satu fokus utama adalah pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman.

Ia menilai tema tersebut sangat relevan mengingat kondisi ekonomi masyarakat di Flores Timur dan Lembata yang masih menghadapi berbagai tantangan.

Melalui pendekatan tersebut, Gereja ingin mendorong umat agar semakin percaya diri mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

“Kita berusaha supaya dengan kemampuan yang ada, rasa percaya diri ditumbuhkan, potensi yang dimiliki dikembangkan. Karena itu tema pertama adalah pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman,” jelasnya.

Budaya Gemohing jadi Perekat Persaudaraan

Ketua Panitia, Kolonel Yohanes Wain, mengatakan keterlibatan warga perantau Muslim dalam seluruh rangkaian kegiatan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan lahir dari budaya masyarakat Lamaholot yang telah diwariskan turun-temurun.

Menurutnya, masyarakat Flores Timur dan Lembata sejak dahulu hidup dengan filosofi gemohing, yakni semangat gotong royong, persaudaraan, kesetaraan, dan saling membantu tanpa membedakan agama maupun latar belakang.

“Nilai-nilai itulah yang terus hidup dan dibawa oleh masyarakat Lamaholot ke mana pun mereka merantau,” ujarnya.