Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
So’E, RakyatNTT.ID – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam dua pekan terakhir diduga menjadi penyebab kematian puluhan ekor sapi milik warga di wilayah dataran tinggi.
Pemerintah Kabupaten TTS melalui Dinas Peternakan mencatat hingga Rabu (29/7/2026), sedikitnya 59 ekor sapi dilaporkan mati mendadak di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, dan Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi.
Fenomena tersebut terjadi setelah wilayah pegunungan di TTS diguyur hujan lebat selama beberapa hari yang disertai kabut tebal dan suhu udara yang turun drastis hingga mencapai 7 derajat Celsius.
Cuaca Dingin Diduga jadi Penyebab Utama
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTS, Marthen Johanis Banunaek, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan awal di lapangan belum menemukan indikasi penyakit menular maupun keracunan sebagai penyebab kematian ternak.
Menurutnya, dugaan terkuat sementara mengarah pada kondisi cuaca yang sangat dingin dan berkabut sehingga menyebabkan ternak mengalami hipotermia.
“Tim kami sudah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan sampel guna memastikan tidak ada penyakit lain yang membahayakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar sapi yang mati berada di area terbuka tanpa kandang yang mampu melindungi ternak dari hujan, angin, dan suhu dingin ekstrem.
Dinas Peternakan Berikan Vitamin dan Obat
Sebagai langkah penanganan awal, Dinas Peternakan telah menyalurkan obat-obatan serta vitamin kepada ternak yang masih hidup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemerintah daerah juga sedang berkoordinasi untuk menyiapkan bantuan stimulan bagi para peternak yang mengalami kerugian akibat kematian ternak.
Selain itu, Dinas Peternakan mengimbau seluruh peternak, khususnya di wilayah dataran tinggi, agar segera memindahkan ternak ke tempat yang terlindung dari hujan dan angin serta menambah pakan agar kondisi ternak tetap prima.
“Kami menghimbau seluruh masyarakat yang memiliki ternak di daerah dataran tinggi untuk segera mengamankan ternaknya ke tempat yang terlindung dari angin dan hujan, serta memberikan pakan tambahan agar ternak lebih tahan terhadap suhu dingin,” katanya.
Pihaknya juga berencana menggelar pelayanan kesehatan ternak secara massal berupa pemberian vitamin dan vaksin kepada sapi yang masih hidup paling lambat pada 3 Agustus 2026.
Desa Tunua Catat Korban Terbanyak
Secara terpisah, Plt Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTS, John Banunaek, menyebut hasil pendataan menunjukkan 49 ekor sapi mati di Desa Tunua hingga 29 Juli 2026.
Dari jumlah tersebut, 15 ekor ditemukan mati di Dusun 2 dan 34 ekor lainnya di Dusun 3.
Selain ternak milik masyarakat, terdapat enam ekor sapi jantan berusia dua tahun milik Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) yang juga mati dengan gejala tubuh gemetar sebelum akhirnya roboh.
Menurut John Banunaek, sebagian besar ternak tersebut mengalami hujan terus-menerus selama tiga hari, yakni sejak Jumat (24/7/2026) malam hingga Senin (27/7/2026) pagi.
“Gejala yang ditemukan adalah sapi kedinginan, tubuh gemetar, kemudian roboh. Sebagian ternak juga terendam lumpur karena tidak dipindahkan pemiliknya ke lokasi yang lebih aman,” jelasnya.
Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Berlanjut
Dinas Peternakan mengingatkan bahwa kondisi cuaca dingin disertai kabut tebal masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah Mollo Utara, Fatumnasi, dan kawasan pegunungan lainnya di Kabupaten TTS.
Karena itu, para peternak diminta meningkatkan kewaspadaan dengan tidak membiarkan ternak berada di tempat terbuka pada malam hingga pagi hari ketika suhu berada pada titik terendah.
Pemerintah Kabupaten TTS memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan sembari melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel ternak untuk memastikan penyebab pasti kematian dan mencegah kemungkinan penyebaran penyakit.
Melalui langkah cepat tersebut, pemerintah berharap kematian ternak tidak terus bertambah serta kerugian yang dialami para peternak dapat diminimalkan. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan