Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurut John Banunaek, sebagian besar ternak tersebut mengalami hujan terus-menerus selama tiga hari, yakni sejak Jumat (24/7/2026) malam hingga Senin (27/7/2026) pagi.
“Gejala yang ditemukan adalah sapi kedinginan, tubuh gemetar, kemudian roboh. Sebagian ternak juga terendam lumpur karena tidak dipindahkan pemiliknya ke lokasi yang lebih aman,” jelasnya.
Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Berlanjut
Dinas Peternakan mengingatkan bahwa kondisi cuaca dingin disertai kabut tebal masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah Mollo Utara, Fatumnasi, dan kawasan pegunungan lainnya di Kabupaten TTS.
Karena itu, para peternak diminta meningkatkan kewaspadaan dengan tidak membiarkan ternak berada di tempat terbuka pada malam hingga pagi hari ketika suhu berada pada titik terendah.
Pemerintah Kabupaten TTS memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan sembari melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel ternak untuk memastikan penyebab pasti kematian dan mencegah kemungkinan penyebaran penyakit.
Melalui langkah cepat tersebut, pemerintah berharap kematian ternak tidak terus bertambah serta kerugian yang dialami para peternak dapat diminimalkan. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan