Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketika skenario bencana dimulai, simulasi berlanjut pada proses evakuasi warga, pencarian dan penyelamatan korban, pelayanan kesehatan darurat, distribusi bantuan logistik, pengelolaan lokasi pengungsian, hingga koordinasi lintas sektor antarinstansi.
Menariknya, seluruh rangkaian simulasi juga mengintegrasikan prinsip Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) guna memastikan kelompok rentan memperoleh perlindungan dan akses layanan secara setara dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Yayasan CIS Timor: Kesiapsiagaan Harus Diuji di Lapangan
Direktur Yayasan CIS Timor Indonesia, Haris Oematan, mengatakan simulasi lapangan merupakan tahapan penting untuk memastikan sistem kesiapsiagaan yang telah disusun benar-benar dapat dijalankan ketika bencana terjadi.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen perencanaan, tetapi harus dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh pihak yang terlibat.
“Kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui dokumen perencanaan. Yang terpenting adalah memastikan masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan memahami perannya masing-masing dan mampu bekerja secara terkoordinasi ketika situasi darurat terjadi. Simulasi ini menjadi ruang belajar bersama untuk menguji sekaligus memperkuat sistem yang telah dibangun,” ujar Haris Oematan.
Penabulu–Oxfam: Masyarakat Adalah Aktor Utama Aksi Kemanusiaan
Direktur Program Penabulu–Oxfam, Rini Devianti Nasution, menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan aksi kemanusiaan, bukan hanya sebagai penerima bantuan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan