Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Program Revitalisasi Pendidikan yang dijalankan Pemerintah Pusat pada era Presiden Prabowo Subianto tidak hanya menghadirkan bangunan sekolah yang lebih layak, tetapi juga membangkitkan semangat gotong royong masyarakat.
Hal itu terlihat di SD Inpres Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, ketika para orang tua siswa secara sukarela menyumbangkan sekitar Rp200 juta untuk mempercantik lingkungan sekolah.
Kontribusi tersebut digunakan untuk membangun halaman sekolah dengan paving block seluas sekitar 500 meter persegi, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih bersih, nyaman, dan inklusif bagi para siswa.
Fakta itu terungkap dalam kunjungan jurnalistik RakyatNTT.ID bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di SD Inpres Naimata, Selasa (21/7/2026).
Revitalisasi Sekolah Disambut Antusias Orang Tua
Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau, bersama Ketua Komite Sekolah, Siprianus D. Nar, menjelaskan bahwa sejak pemerintah memulai pembangunan 13 ruang kelas baru, masyarakat langsung memberikan respons positif.
Tidak hanya mendukung secara moral, sejumlah orang tua siswa bahkan ikut terlibat dalam proses pembangunan hingga memberikan sumbangan untuk melengkapi fasilitas sekolah.
Menurut mereka, kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Orang Tua dan Pekerja Bangunan Ikut Berswadaya
Ketua Komite SD Inpres Naimata, Siprianus D. Nar, mengatakan bantuan yang diberikan berasal dari sumbangan sukarela orang tua siswa melalui komite sekolah.
Menariknya, para pekerja bangunan yang ikut membangun gedung sekolah—yang sebagian besar juga merupakan orang tua siswa dan warga sekitar—turut memberikan kontribusi dalam penyelesaian halaman sekolah.
Awalnya, area seluas sekitar 500 meter persegi tersebut hanya berupa tanah yang berdebu saat musim kemarau dan berlumpur ketika musim hujan.
Kini, halaman sekolah berubah menjadi lebih rapi setelah dipasang paving block yang menyatu dengan bangunan baru hasil Program Revitalisasi Pendidikan.
“Itu yang kami sumbang bersama para pekerja di sini, nilainya sekitar Rp200 juta,” ungkap Siprianus.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan halaman sekolah merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap program pemerintah sekaligus bagian dari upaya menjadikan SD Inpres Naimata sebagai sekolah yang nyaman dan inklusif.
“Sehingga banyak dari orang tua pun berkontribusi,” tambah Siprianus yang juga menjabat sebagai Ketua P2SP.
Gotong Royong jadi Wujud Nilai Pancasila
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam mendukung Program Revitalisasi Pendidikan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat merupakan implementasi nyata nilai gotong royong yang terkandung dalam Pancasila.
Ia menilai, keberhasilan revitalisasi pendidikan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik sekolah, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan.
“Itu adalah panggilan bagi orang tua bahwa mereka tidak hanya menerima, tetapi juga memberi. Ketika kita berbicara tentang kolaborasi, nilai-nilai Pancasila sudah hidup di sini. Semangat gotong royong ini akan terus kami jaga,” ujarnya.
Diharapkan Berlanjut ke Sekolah Lain
Ernest juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat atas pelaksanaan Program Revitalisasi Pendidikan di Kota Kupang.
Ia berharap program tersebut terus berlanjut sehingga semakin banyak sekolah yang mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan sektor pendidikan.
Menurutnya, kolaborasi seperti yang terjadi di SD Inpres Naimata menjadi contoh bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan akan lebih optimal ketika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama.
Kunjungan Libatkan Komdigi dan Kemendikdasmen
Kunjungan jurnalistik tersebut turut dihadiri Direktur Ekosistem Media Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Farida Dewi Maharani, serta Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Khamim.
Kehadiran kedua kementerian menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung implementasi Program Revitalisasi Pendidikan yang telah menghadirkan perubahan nyata, tidak hanya pada kualitas infrastruktur sekolah, tetapi juga dalam membangun budaya gotong royong dan kolaborasi masyarakat.
Transformasi SD Inpres Naimata menunjukkan bahwa keberhasilan Program Revitalisasi Pendidikan bukan semata-mata tentang pembangunan ruang kelas, tetapi juga tentang tumbuhnya rasa memiliki masyarakat terhadap sekolah. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi generasi masa depan. (rnc04)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan