Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SEBUAH ambulans memasuki sebuah desa di Nusa Tenggara Timur. Tangisan keluarga pecah ketika sebuah peti jenazah diturunkan. Di dalamnya terbujur seorang anak NTT yang beberapa bulan sebelumnya berangkat dengan mimpi sederhana: bekerja, membantu orang tua, menyekolahkan adik, dan mengubah masa depan keluarganya. Namun, yang pulang bukan keberhasilan, melainkan kematian.
Pemandangan seperti itu bukan lagi peristiwa yang asing bagi masyarakat NTT. Ia menjadi luka kolektif yang terus berulang, seolah-olah kita mulai terbiasa menerima kabar duka dari negeri orang. Gambaran inilah yang saya gunakan sebagai pembuka dalam Podcast Orela TV DPD GAMKI NTT bertajuk “NTT Darurat TPPO: Mengapa Korban Terus Berjatuhan?” karena itulah realitas yang sedang dihadapi daerah ini.
Podcast tersebut mempertemukan penyintas, pendamping korban, organisasi masyarakat sipil, tokoh gereja, dan pembuat kebijakan untuk membedah akar persoalan sekaligus merumuskan jalan keluarnya. Salah satu momen yang paling menggugah adalah kesaksian Mama Meriance Kabu, seorang penyintas yang mengalami kekerasan saat bekerja di Malaysia. Dua belas tahun telah berlalu, tetapi luka yang dialaminya belum benar-benar sembuh dan keadilan yang diperjuangkannya belum sepenuhnya hadir.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan